Selamat datang di Blog Gereja Katolik Sampit - Keuskupan Palangkaraya - Kalimantan Tengah

Halaman

Senin, 12 Agustus 2019

RANGKUMAN & REKOMENDASI TEMU DEWAN SENATUS BEJANA ROHANI 2019

Berikut ini adalah Rangkuman dan Rekomendasi yang di hasilakan pada Temu Dewan Senatus Bejana Rohani Legio Maria di Jakarta 9 - 11 Agustus 2019.
Adapun File PDF nya dapat di Download pada Link dibawah  ini :
 
DOWNLOAD PDF


Kamis, 08 Agustus 2019

Menjadi Pembantu Sejati

Para pria paruh baya itupun maju dengan rapi. Di hadapan bangku umat, sudah berjajar rapi 12 kursi yang disediakan misdinar. Merekapun duduk di situ sementara Romo Sigit menyiapkan kain dan air dalam baskom. Sang imam selebran pun mendekat kepada seorang bapak tua di ujung deretan kursi dan mulai membasuh kakinya. Seperti biasa, Misa Kamis Putih menghadirkan kembali kenangan ketika Yesus membasuh kaki keduabelas murid-Nya.
Wajah para bapak itu cukup bervariasi. Beberapa terlihat biasa saja. Beberapa terlihat agak sungkan. Tapi ada seorang bapak yang mimik mukanya cukup lucu. Wajahnya menunjukkan campuran antara malu, geli, dan merasa tidak layak. Aku menebak-nebak kalau si bapak merasa sungkan karena belum pernah melayani di paroki. Memang, biasanya umat yang dibasuh kakinya adalah umat yang diharapkan aktif melayani di paroki. Aku pun membayangkan apabila seandainya aku berada di posisi serupa.
Pembasuhan kaki memang melambangkan kerendahan hati dan pelayanan. Yesus membasuh kaki para rasul-Nya untuk memberi mereka teladan untuk saling melayani. Melalui pembasuhan kaki, Yesus menunjukkan bahwa seorang pengikut Kristus harus melayani. Aku merasa sudah melakukannya karena aku sudah melibatkan diri dalam pelayanan. Namun, rasanya ada hal lain yang Tuhan ingin sampaikan padaku. Bagaimana dengan pelayananku selama ini? Apakah aku sudah melayani dengan hati seorang pelayan?
Lamunanku terhenti sebentar karena rombongan bapak mulai meninggalkan depan altar. Pembasuhan kaki sudah selesai rupanya. Sambil terus memperhatikan si bapak bermimik muka lucu, aku lanjutkan lamunanku. Apa maksudnya melayani dengan hati pelayan?
Aku membayangkan Yesus yang sedang membasuh kaki para rasul-Nya. Hari itu, Ia menjadikan diri-Nya seorang pembantu. Ia membasuh kaki mereka satu persatu secara bergantian tanpa kecuali. Baik St. Yohanes yang Ia kasihi, maupun Yudas yang Ia tahu akan mengkhianatiNya malam itu juga. Tanpa kecuali. Sekalipun Ia tahu Yudas akan segera menyerahkanNya pada kaum Farisi, Ia tetap membasuh dan membersihkan kakinya dengan lembut. Sekalipun Ia tahu Yudas akan memilih meninggalkanNya dengan bunuh diri, Ia tetap mengecup kakinya dengan cinta. Ia mengajar kita untuk mencintai musuh dan Ia buktikan dalam perbuatanNya (Mat 5:44).
Bagian “tanpa kecuali” inilah yang tampaknya sulit aku lakukan. Melayani dengan tulus demi orang yang kukasihi alamiah dan mudah. Melayani dengan tulus demi orang yang tidak mengasihiku? Lain cerita. Sekuat-kuatnya, aku hanya bisa memajang senyuman, paling tidak supaya orang tersebut tidak tersinggung. Tapi, senyuman itu belum menjadi senyuman tulus dari hati. Pelayananku masih belum tulus sepenuhnya karena masih belum “tanpa kecuali”. Pelayananku belum memiliki hati seorang pelayan. Aku perlu belajar dari sang Pelayan, Yesus, yang melayani tanpa kecuali, baik mereka yang mencintaiNya, maupun mereka yang membenciNya.
Aku harus selalu ingat bahwa Tuhan memberikan rahmat-Nya yang manis pada semuanya, baik orang jahat maupun baik (bdk. Mat 5:45). Lidah orang jahat maupun baik sama-sama mengecap rasa manis pada gulali. Gulaliku harus terasa manis, baik untuk lidah orang jahat maupun baik, supaya semua lidah memuliakan nama Tuhan.
“Melayani Allah bukanlah suatu beban, melainkan kehormatan. Jauh dari membuat kita sebagai budak, pelayanan sebenarnya malah membebaskan kita” – St. Petrus Krisologus

 IOANNES
Seorang biasa yang dipanggil Yesus untuk mengikutiNya dan bersatu dengan denganNya dalam Gereja yang Ia dirikan sendiri. Mencintai santo-santa dan berharap boleh mendapat anugerah ketaatan dan kerendahan hati seperti mereka. Saat ini sedang meretas jalan dan kesiapan diri untuk bergabung dengan salah satu ordo religius.
Website : http://katolisitas.org


Selasa, 06 Agustus 2019

Apa artinya menjadi Katolik?

“Kamu masih Katolik?”

Pertanyaan ini mungkin terdengar janggal, tetapi pertanyaan ini pernah ditanyakan kepada saya belasan tahun yang lalu, oleh teman masa kecil saya. Sewaktu remaja dulu, kami pernah sama-sama aktif di paroki, menjadi anggota Legio Mariae dan anggota salah satu koor di paroki kami. Kini ia telah berpindah ke gereja non-Katolik, karena konon ia lebih dapat bertumbuh secara rohani di sana. Dia begitu antusias mengisahkan pengalaman barunya di komunitas tersebut, dan kemudian menanyakan pertanyaan yang mengusik hati saya, “Kalau kamu bagaimana, masih Katolik, ya?” Seolah menjadi Katolik itu sesuatu keputusan yang kurang tepat dan harus diubah. Saya menjawabnya lirih, “Ya, saya masih Katolik, dan saya akan tetap Katolik….” Tapi saya tidak tahu bagaimana melanjutkan kalimat itu. Saya bersyukur, seiring dengan berjalannya waktu, melalui ajaran iman dan pengalaman hidup, sedikit demi sedikit, kutemukan jawabannya….

Menjadi Katolik artinya menerima dengan iman, wahyu Tuhan dan undangan-Nya kepada persatuan dengan-Nya

Sebagai murid Kristus, kita tidak hanya mengikuti sebuah buku, tetapi Seorang Pribadi, yaitu Yesus Kristus. Itulah sebabnya kita disebut sebagai “Christ-ian” atau Kristiani/ Kristen. Pribadi yang kita ikuti dan kita jadikan pusat dalam hidup kita ini, adalah Pribadi yang mengasihi kita, yang menyatakan kasih-Nya itu dan mewahyukan Diri-Nya secara penuh kepada kita. Karena kasih-Nya yang sempurna inilah, Kristus ingin terus tinggal di tengah kita dan bersekutu/ bersatu dengan kita. Sebab kasih selalu menginginkan kebersamaan. Kristus menghendaki kebersamaan atau persekutuan antara kita dengan Dia, atas dasar kasih dan kebenaran, sebab Ia Allah yang adalah Sang Kasih (1 Yoh 4:8) dan Kebenaran (Yoh 14:6). Maka menjadi Katolik, pertama-tama adalah menanggapi dengan iman, pewahyuan Allah dan undangan-Nya kepada persatuan (komuni) dengan-Nya. Maka, menjadi Katolik adalah menjadi seorang Kristiani, titik. Sebab seorang Kristiani sudah seharusnya menerima segala yang diwahyukan Allah di dalam Kristus.
Iman yang dimaksud di sini, menurut Konsili Vatikan II,[1] Katekismus[2], dan pengajaran Paus Yohanes Paulus II[3] adalah iman yang terdiri dari dua unsur. Yang pertama adalah unsur pribadi, yaitu percaya kepada Allah, akan segala kasih dan kebijaksanaan-Nya, sehingga kita mau menyerahkan diri kita tanpa syarat kepada-Nya. Dengan kata lain, kita lebih percaya akan kebijaksanaan Allah daripada kebijaksanaan diri sendiri untuk menentukan kebahagiaan kita, dan kita lebih percaya akan kuasa rahmat-Nya daripada kekuatan sendiri untuk mencapainya. Yang kedua adalah unsur obyektif, yaitu kita percaya akan isi wahyu yang diberikan Tuhan, dan memegangnya sebagai sesuatu yang ilahi. Maka unsur pertama adalah percaya kepada Allah yang mewahyukan dan unsur kedua adalah percaya kepada apa yang diwahyukan-Nya. Dengan demikian, iman dapat digambarkan dengan perkataan ini: “Kalau Tuhan yang saya percayai sebagai Pribadi yang baik, penuh cinta kasih, dan bijaksana, telah mewahyukan sesuatu kepada saya, maka atas hormat dan kasih kepada-Nya, saya mau menerima apa yang diwahyukan-Nya itu.”

Keempat Tanda Gereja sejati: satu, kudus, katolik, apostolik

Iman Katolik mengajarkan bahwa Tuhan yang kepada-Nya kita percaya, telah berbicara melalui Kristus, Putera-Nya (lih. Ibr 1:1-4). Sebab Allah mewahyukan bahwa Ia yang dalam Perjanjian Lama juga disebut sebagai Yahweh, Adonai, atau Yehovah, adalah satu dan sama hakekatnya dengan Yesus Kristus, sebab Kristus mengatakan, “Bapa dan Aku adalah satu.” (Yoh 10:30). Kristus yang sama ini mendirikan Gereja-Nya (lih. Mat 16:18) yang oleh kuasa Roh Kudus, diberi karunia kesatuan, kekudusan, keseluruhan dan kesinambungan dengan jalur apostolik di sepanjang sejarah. Dengan mendirikan Gereja-Nya, dan memberikan kuasa kepada Gereja untuk membaptis dan mengajarkan semua perintah-Nya (lih. Mat 28:19-20), Kristus menjadikan Gereja sebagai sarana yang perlu untuk keselamatan.
Peran Gereja sebagai tanda dan sarana keselamatan, di mana Allah terus melaksanakan karya penyelamatan-Nya, secara sempurna dinyatakan dalam perayaan Ekaristi. Itulah sebabnya dikatakan bahwa Gereja lahir dari Ekaristi, dan Ekaristi lahir dari Gereja. Sebab Gereja lahir/ memperoleh hidupnya dari pengorbanan Kristus.  Sakramen-sakramen sebagai peringatan akan pengorbanan Kristus itu- terus menghidupi Gereja, dan Gereja terus menghadirkannya.[4]

Tanda apostolik menjamin kesatuan, kekudusan dan kekatolikan Gereja

Mungkin ketiga tanda Gereja yaitu satu, kudus dan katolik (universal), lebih mudah diterima, daripada tanda yang terakhir, yaitu apostolik. Namun sejujurnya tanda yang keempat ini merupakan tanda yang paling jelas menunjukkan bahwa seperti halnya dahulu Kristus hadir secara aktif di tengah para Rasul, kini, Ia-pun hadir secara aktif di tengah Gereja-Nya. Meskipun Ia sudah bangkit dan naik ke surga, Kristus tetap hadir dan melanjutkan misinya di dunia, di dalam Gereja dan melalui Gereja. Maka ada hubungan yang tak terpisahkan antara Kristus dan Gereja. Gereja itu satu, kudus dan katolik, sebab Kristus itu satu, kudus dan katolik, dan Ia kini tetap hadir dalam Gereja-Nya sampai akhir zaman.
Bahwa Kristus dapat hadir di tengah umat-Nya dalam berbagai cara, namun ada satu cara yang dikehendaki-Nya, dan menjadi pusatnya. Pusat ini adalah kehadiran Kristus yang nyata dalam Ekaristi, yang menjadi sumber dan puncak kehidupan kita sebagai umat Kristiani (lih. KGK 1324). Iman Katolik mengajarkan bahwa terdapat hubungan yang tak terpisahkan antara sifat apostolik dengan kehadiran Kristus yang nyata dalam Ekaristi. Paus yang adalah penerus Rasul Petrus, menjadi tanda yang menghubungkan Gereja masa kini dengan Gereja di zaman para Rasul. Sebagai prinsip yang menyatukan, Paus menjamin kesatuan kolese para Uskup -yang adalah penerus para Rasul- yang menjadi tanda kesatuan antara Gereja partikular/ lokal dengan Gereja universal. Kesatuan ini bukan hanya semata saling mengakui keberadaan masing-masing, atau sebagai hasil hubungan timbal balik antara gereja-gereja. Namun kesatuan ini adalah kesatuan yang timbul dari dalam, yang hasilnya adalah hadirnya Gereja universal dengan semua elemen dasarnya, di dalam setiap gereja-gereja partikular tersebut.
Kehadiran Kristus secara nyata dalam Gereja, secara khusus dalam Ekaristi dijamin oleh karunia sifat apostolik yang melayani ketiga tanda Gereja: kesatuan, kekudusan dan kekatolikan. Kristus yang hadir secara aktif atas kuasa Roh Kudus yang telah mengurapi para rasul dan para penerus mereka, itulah yang menjadikan Gereja sebagai sakramen kesatuan dan keselamatan bagi umat manusia. Ekaristi dan kesatuan dalam kepemimpinan Paus bukanlah akar yang terpisah bagi kesatuan Gereja, sebab Kristus menentukan keduanya untuk saling berhubungan satu sama lain. Kepemimpinan Paus adalah satu, seperti Ekaristi adalah satu: yaitu satu Korban dari satu Kristus, yang wafat dan bangkit. Maka dalam setiap perayaan Ekaristi, dilakukanlah dan ditunjukkanlah kesatuan, tidak saja dengan Uskup sebagai penerus para Rasul, tetapi juga dengan Paus sebagai penerus Rasul Petrus sang pemimpin para Rasul, dengan semua imam dan semua umat beriman yang adalah anggota Kristus, dan di atas semua itu, dengan Kristus yang adalah Kepalanya.

Menjadi Katolik artinya mempercayakan diri kepada Tuhan melalui Gereja

Gereja Katolik memahami peran otoritas apostolik sebagai iman akan janji Kristus yang akan menyertai Gereja-Nya, yang dibuktikan juga oleh banyak tanda sepanjang sejarah, yang menunjukkan betapa Kristus menjaga Gereja dan menghindarinya dari ajaran-ajaran yang menyimpang. Oleh iman inilah, kita menyerahkan diri kepada Allah melalui Gereja, sebab demikianlah yang dikehendaki oleh Allah.
Prinsip pengantaraan Gereja ini bukanlah hal yang baru atau mengada-ada. Sepanjang sejarah umat pilihan, Allah menghendaki bahwa kesetiaan kepada-Nya diukur juga dari kesetiaan kepada para nabi atau pengantara yang ditunjuk olah-Nya. Setia kepada Allah di zaman Perjanjian Lama, berarti juga setia kepada Nabi Musa. Keduanya tak terpisahkan, sebagaimana tertulis dalam Kel 14:31. Kesetiaan kepada para nabi berarti penerimaan terhadap apa yang dikatakan oleh mereka. Tuhan menganggap bahwa penolakan terhadap ajaran para nabi merupakan penolakan terhadap-Nya, seperti nyata dalam penolakan terhadap Nabi Yeremia (lih. Yer 7:25-26). Di masa Yohanes Pembaptis, jawaban “Ya” terhadap panggilan Tuhan dinyatakan dengan persetujuan untuk dibaptis (lih. Mrk 1:4; Luk 3:3) dan penerimaan terhadap pesannya yang memberitakan kedatangan Kristus, Sang Anak Domba Allah (lih. Yoh 1:29,36).
Kristus menghubungkan penerimaan ataupun penolakan terhadap diri-Nya dan Bapa yang mengutus-Nya, dengan penerimaan ataupun penolakan terhadap mereka yang diutus oleh-Nya (lih. Luk 10:16). Maka Gereja mengajarkan bahwa kesetiaan kepada Kristus ditunjukkan dengan penerimaan keseluruhan kehendak-Nya (lih. Mat 28:19-20), termasuk pengantaraan Gereja apostolik yang didirikan-Nya (lih. Mat 16:16-19). Dengan kata lain, persetujuan iman terhadap Kristus mengambil bentuk konkritnya dalam persetujuan terhadap semua yang telah dinyatakan dan didirikan oleh-Nya, termasuk Gereja-Nya.

Menjadi Katolik artinya setia kepada Tuhan, Kristus, Gereja dan diri sendiri

Rasul Yohanes mengajarkan bahwa kesetiaan kepada Tuhan diukur dari kesetiaan kepada keseluruhan pengajaran yang dikenali sebagai wahyu ilahi sejak awal mula (lih. 1 Yoh 2:24). Jika Allah menghendaki agar kita menerima ajaran-Nya dengan menerima ajaran para nabi yang mencapai puncaknya pada penggenapannya dalam diri Kristus, kita menerima kehendak Allah ini, dengan menerima Kristus sepenuhnya. Sebab Kristus sepenuhnya menyatakan Allah dan kasih-Nya kepada kita (Kol 1:19; 2:9), sehingga Rasul Paulus mengatakan bahwa Kristus adalah segalanya (lih. Kol 3:11). Maka penerimaan Kristus sepenuhnya ini termasuk dengan menerima segala ajaran-Nya dan menjadi anggota Gereja yang didirikan-Nya. Jika Kristus menjamin kuasa mengajar Gereja yang dilaksanakan oleh para rasul, secara khusus, oleh Rasul Petrus dan para penerus mereka, maka demi ketaatan kita kepada Kristus, kita mentaati juga ajaran Gereja-Nya tersebut. Sebab kita mengingat perkataan Kristus sendiri kepada para murid-Nya, “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.” (Luk 10:16).
Dengan ketaatan yang menerima keseluruhan Kristus dan ajaran-Nya ini, maka seorang Katolik memberikan kata “Ya” tanpa syarat dalam iman kepada Allah. Pemberian persetujuan iman tanpa syarat ini, menjadi tanggapan yang mendamaikan bagi hati kita sebagai manusia yang senantiasa resah/ gelisah, sampai kita beristirahat di dalam Tuhan.[5] Sebab dengan menyerahkan pemahaman kita kepada Kristus melalui Gereja-Nya, kita tidak lagi perlu gelisah menginterpretasikan banyak hal menurut pemahaman sendiri, yang dapat berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain, bahkan bertentangan, terhadap suatu topik pengajaran yang sama. Dengan menerima sepenuhnya pengajaran Gereja, kita memperoleh kepenuhan makna ajaran Kristus, dan ini menghasilkan ketenangan bagi jiwa. Menarik jika kita menyimak tayangan Journey Home di situs EWTN (Eternal Word Television Network) yang mengisahkan tentang pencarian akan kepenuhan kebenaran yang membawa kepada Gereja Katolik, silakan klik. Di sana ada lebih dari 700 kisah kesaksian dari mereka yang non-Katolik, bahkan banyak di antaranya pendeta, yang akhirnya menjadi Katolik karena setia mencari apa yang dirindukan oleh hati nurani mereka sendiri, yang membawa mereka menemukan ‘rumah’ mereka yang sesungguhnya di Gereja Katolik.

Menjadi Katolik artinya menjadi anggota Gereja yang lahir dari Hati Kudus Yesus

Namun bagi saya sendiri, pengalaman yang tak terlupakan dan begitu mengena di hati saya, adalah ketika saya mendengar dan merenungkan kutipan pengajaran dari St. Yohanes Krisostomus tentang Gereja. Ia mengajarkan demikian:
“Mengalir dari rusuk-Nya, air dan darah”. Saudara saudari terkasih, jangan lewatkan misteri ini tanpa permenungan; ini mempunyai makna lainnya yang tersembunyi, yang akan kujelaskan kepadamu. Telah kukatakan bahwa air dan darah menandakan Pembaptisan dan Ekaristi kudus. Dari kedua sakramen ini, Gereja dilahirkan: dari Pembaptisan, [yaitu] “air pembasuh yang memberikan kelahiran kembali dan pembaharuan melalui Roh Kudus”, dan dari Ekaristi kudus. Karena simbol Pembaptisan dan Ekaristi mengalir dari rusuk-Nya, maka dari rusuk-Nyalah Kristus membentuk Gereja, seperti Ia telah membentuk Hawa dari rusuk Adam. Nabi Musa telah memberikan secercah tanda tentang hal ini, ketika ia menceritakan kisah tentang manusia pertama dan membuat Adam mengatakan: “Tulang dari tulangku dan daging dari dagingku!” Sebagaimana Tuhan mengambil sebuah tulang rusuk dari rusuk Adam untuk membentuk seorang perempuan, demikianlah Kristus telah memberikan kepada kita darah dan air dari rusuk-Nya untuk membentuk Gereja. Tuhan mengambil tulang rusuk tersebut ketika Adam sedang tertidur lelap, dan dengan cara yang sama Kristus memberikan darah dan air setelah kematian-Nya sendiri.
Maka, tidakkah kamu mengerti, betapa Kristus telah mempersatukan Mempelai-Nya dengan diri-Nya sendiri, dan santapan apakah yang Ia berikan kepada kita semua untuk kita makan? Dengan santapan yang satu dan sama, kita dilahirkan dan diberi makan. Seperti seorang wanita memberi makan anaknya dengan air susu dan darahnya sendiri, demikianlah Kristus terus menerus memberi Darah-Nya sendiri kepada mereka yang kepadanya Ia telah menyerahkan hidup-Nya.”[6]
Sudah lama saya mendengar bahwa Gereja adalah Mempelai Kristus, tetapi saya tidak menyadari sedemikian eratnya hubungan Kristus dengan Gereja-Nya, sampai saya membaca tulisan St. Yohanes Krisostomus ini. Kristus adalah Adam yang baru, dan Gereja adalah Hawa yang baru, yang dibentuk dari rusuk/lambung Kristus, yang dihubungkan juga dengan hati kudus-Nya—sebab maksud prajurit itu menikam adalah menikam jantung hati Kristus, untuk memastikan kematian-Nya. Hubungan Kristus dan Gereja sebagai Adam dan Hawa yang baru, merupakan penggenapan sempurna kisah Adam dan Hawa yang telah dikisahkan dalam Perjanjian Lama.
St. Yohanes Krisostomus bukan Bapa Gereja pertama yang mengajarkan bahwa Gereja lahir dari tubuh Kristus, sebagaimana Hawa dari tubuh Adam. St. Irenaeus (abad ke-2) mengajarkan bahwa Gereja bagaikan aliran mata air yang mengalir dari tubuh Kristus, dan dari air ini kita memperoleh santapan kehidupan.[7] St. Ambrosius juga mengajarkan demikian, sebagaimana dikutip dalam Katekismus:
KGK 766        Tetapi Gereja muncul terutama karena penyerahan diri Kristus secara menyeluruh untuk keselamatan kita, yang didahului dalam penciptaan Ekaristi dan direalisasikan pada kayu salib. “Permulaan dan pertumbuhan itulah yang ditandakan dengan darah dan air, yang mengalir dari lambung Yesus yang terluka di kayu salib.”[8] “Sebab dari lambung Kristus yang berada di salib, muncullah Sakramen seluruh Gereja yang mengagumkan.”[9] Seperti Hawa dibentuk dari rusuk Adam yang sedang tidur, demikian Gereja dilahirkan dari hati tertembus Kristus yang mati di salib.[10]
Pengajaran para Bapa Gereja ini membuka mata rohani saya, bahwa sejak awal mula, Allah telah merencanakan kesempurnaan ciptaan-Nya, dengan mempersatukan semua umat manusia ciptaan-Nya di dalam Kristus dan Gereja. Tiba-tiba pengajaran di Katekismus menjadi ‘make sense‘ buat saya, setelah merenungkan penggenapan kisah Adam dan Hawa di dalam diri Kristus dan Gereja sebagai Adam dan Hawa yang baru. Sebagaimana manusia pertama—Adam dan Hawa—menjadi puncak karya penciptaan Allah, demikianlah Kristus dan Gereja menjadi puncak karya keselamatan Allah. Persatuan manusia dengan Kristus tercapai secara sempurna dalam diri Bunda Maria, maka tak mengherankan, jika dalam tulisan yang lain para Bapa Gereja menyebut Bunda Maria juga sebagai Hawa yang baru. Sebab Bunda Maria adalah anggota pertama dan utama dari perkumpulan umat manusia di dalam Kristus, yang kemudian disebut Gereja.
KGK 760        “Dunia diciptakan demi Gereja”, demikian ungkapan orang-orang Kristen angkatan pertama.[11] Allah menciptakan dunia supaya mengambil bagian dalam kehidupan ilahi-Nya. Keikut-sertaan ini terjadi karena manusia-manusia dikumpulkan dalam Kristus, dan “kumpulan” ini adalah Gereja. Gereja adalah tujuan segala sesuatu.[12] Malahan peristiwa-peristiwa yang menyakitkan hati, seperti jatuhnya para malaikat dan dosa manusia, hanya dibiarkan oleh Allah sebagai sebab dan sarana, untuk mengembangkan seluruh kekuatan tangan-Nya dan menganugerahkan kepada dunia cinta-Nya yang limpah ruah:
“Sebagaimana kehendak Allah adalah satu karya dan bernama dunia, demikian rencana-Nya adalah keselamatan manusia, dan ini namanya Gereja.”[13]
Gereja yang dimaksud di sini adalah satu-satunya Gereja yang didirikan Kristus di atas Rasul Petrus (lih. Mat 16:18), dan bahwa Kristus menjamin akan menyertainya sampai akhir zaman (Mat 28:19-20). Sebagaimana hanya ada satu Hawa yang dibentuk dari Adam, demikian pula hanya ada satu Gereja yang dibentuk dari Kristus. Maka Gereja tak pernah terpisah dari Kristus. Gereja bukan sesuatu yang dibentuk sendiri oleh beberapa orang beriman, dan kemudian diklaim sebagai Gereja Kristus. Gereja adalah suatu ‘pemberian’ dari Kristus dan dibentuk sendiri oleh Kristus, yang ditandai oleh darah dan air yang mengalir keluar dari lambung-Nya yang terluka di kayu salib. Maka rencana Allah untuk mempersatukan seluruh dunia di dalam Kristus sudah ada sejak awal mula, namun rencana ini baru mulai terwujud pada saat Gereja dibentuk dari air dan darah yang keluar dari lambung Yesus yang tertikam di salib. Gereja ini kemudian ditampilkan kepada dunia pada hari Pentakosta, dengan datangnya Roh Kudus.[14] Satu-satunya Gereja yang didirikan oleh Kristus di atas Rasul Petrus, yang masih ada sampai sekarang di bawah pimpinan penerus Rasul Petrus adalah Gereja Katolik. Jika Kristuslah yang mendirikan Gereja ini, dan yang telah menyerahkan nyawa-Nya baginya, maka sudah selayaknya saya memutuskan untuk menjadi anggota Gereja-Nya ini.
Maka menjadi Katolik bagi saya tidaklah semata suatu kebetulan, karena dilahirkan oleh orang tua yang Katolik. Saya menjadi Katolik karena ingin mentaati Allah sepenuhnya, yang telah mewahyukan melalui Kristus, segala ajaran-Nya dan undangan-Nya untuk bersatu dengan-Nya dan dengan sesama umat manusia, di dalam Kristus dan melalui Gereja yang didirikan-Nya, yaitu Gereja Katolik.
Tuhan, bantulah aku untuk setia pada imanku ini, sampai akhir hayatku.


[1]Lih. Konsili Vatikan II, Konstitusi tentang Wahyu Ilahi, Dei Verbum 5: “Kepada Allah yang menyampaikan wahyu manusia wajib menyatakan “ketaatan iman” (Rm 16:26; lih. Rm 1:5 ; 2Kor10:5-6). Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan”, dan dengan secara sukarela menerima sebagai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh-Nya. Supaya orang dapat beriman seperti itu, diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta menolong, pun juga bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan membalikkannya kepada Allah, membuka mata budi, dan menimbulkan “pada semua orang rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran”. Supaya semakin mendalamlah pengertian akan wahyu, Roh Kudus itu juga senantiasa menyempurnakan iman melalui kurnia-kurnia-Nya.
[2]Lih. KGK 143: “Melalui iman, manusia menaklukkan seluruh pikiran dan kehendaknya kepada Allah. Dengan segenap pribadinya manusia menyetujui Allah yang mewahyakan Diri (Bdk. DV 5). Kitab Suci menamakan jawaban manusia atas undangan Tuhan yang mewahyukan Diri itu “ketaatan iman” (Bdk. Rm 1:5; 16:26). Dan KGK 144: “Taat [ob-audire] dalam iman berarti menaklukkan diri dengan sukarela kepada Sabda yang didengar, karena kebenarannya sudah dijamin oleh Allah, yang adalah kebenaran itu sendiri. Sebagai contoh ketaatan ini Kitab Suci menempatkan Abraham di depan kita. Perawan Maria melaksanakannya atas cara yang paling sempurna.
[3]Lih. Paus Yohanes Paulus II, dalam Audiensi Umum, Maret 13, 1985: “Percaya berarti menerima dan mengakui sebagai kebenaran dan kesesuaian dengan kenyataan, isi dari apa yang dikatakan, yaitu, isi dari yang dikatakan oleh seseorang yang lain (atau beberapa orang yang lain) karena kredibilitas orang itu. Maka, dengan mengatakan “Aku percaya”, kita menyatakan dua buah acuan pada saat yang sama: kepada orangnya, dan kepada kebenaran [yang dikatakan]-nya; kepada kebenarannya dengan memperhatikan pribadi orang yang mempunyai kredibilitas yang istimewa tersebu.”
[4]Lih. KGK 1118: Sakramen-sakramen adalah Sakramen “Gereja” dalam arti ganda, karena mereka ada “melalui dia” dan “untuk dia”. Mereka ada “melalui Gereja” karena Gereja adalah Sakramen karya Kristus, yang bekerja di dalamnya berkat perutusan Roh Kudus. Dan mereka itu “untuk Gereja”; mereka adalah “Sakramen-sakramen, yang olehnya Gereja didirikan” (Agustinus, De civ. Dei 22,17, Bdk. Thomas Aquinas, Summa Theologica III,64, 2 ad 3), karena mereka memberikan dan membagi-bagikan kepada manusia, terutama dalam Ekaristi, misteri persekutuan dengan Allah, Dia yang adalah cinta kasih, Dia yang esa dalam tiga Pribadi.
[5]St. Augustine, Confessions (Lib 1,1-2,2.5,5: CSEL 33, 1-5): “You have made us for yourself, O Lord, and our heart is restless until it rests in you.”
[6]St. John Chrysostom, A Homily for Holy Friday, The Blood and Water from His side, (+ AD 407).
[7]St. Irenaeus, Adversus Haereses, III, 24, 1: PG 7, 966 mengajarkan: “Mereka yang tidak mengambil bagian dalam Roh Kudus, tidak dapat memperoleh dari pangkuan ibu mereka [Gereja] santapan kehidupan; mereka tak menerima apapun dari mata air yang murni yang mengalir dari tubuh Kristus.”
[8]Konsili Vatikan II, Lumen Gentium 3.
[9]Sacrosanctum Concilium 5.
[10]Bdk. Santo Ambrosius, Luc. II, 85-89, PL 15, 1666-1668.
[11]Hermas, Vision. 2,4, 1; Bdk. Aristides, Apol. 16,6; Yustinus, Apol. 2,7.
[12]Bdk. Epifanius, Haer. 1,1,5.
[13]St, Klemens dari Aleksandria, Paed. 1,6,27:PG 8, 281.
[14]Lih. KGK 767: “Sesuai tugas, yang diberikan Bapa kepada Putera untuk ditunaikan di dunia, diutuslah Roh Kudus pada hari Pentakosta, agar ia senantiasa menyucikan Gereja” (Lumen Gentium 4). Ketika itu “Gereja ditampilkan secara terbuka di depan khalayak ramai dan dimulailah penyebaran Injil di antara bangsa-bangsa melalui pewartaan” (Ad Gentes 4). Sebagai “perhimpunan” semua manusia menuju keselamatan, Gereja itu misioner menurut kodratnya, diutus oleh Kristus kepada segala bangsa, untuk menjadikan semua orang murid-murid-Nya (Bdk. Mat 28:19-20; Ad Gentes 2;5-6)

Ingrid Listiati 
Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

Senin, 05 Agustus 2019

Apakah Sola Scriptura/ “Kitab Suci saja” cukup?

Pendahuluan

Dalam diskusi antara umat Katolik dan non- Katolik perihal Kitab Suci, sering timbul perkataan demikian, “Mari setuju dulu bahwa Kitab Suci adalah pegangan satu-satunya dalam iman kita”. Seharusnya, jika kita mendengar pernyataan sedemikian, kita harus menjawab, “Tidak”. Sebab Kitab Suci sendiri tidak mengajarkan demikian. Pandangan yang mengutamakan “hanya Kitab Suci saja” (Sola Scriptura) atau Kitab Suci sebagai satu-satunya pedoman iman, adalah pandangan yang menolak Tradisi Suci dan otoritas Gereja, dan hal ini tidak sesuai dengan pengajaran Kristus dan para rasul.

Apa itu Sola Scriptura?


Sola Scriptura adalah doktrin Protestan yang mengatakan bahwa Kitab Suci adalah “sumber otoritas yang terutama dan absolut, keputusan akhir dalam menentukan, untuk semua doktrin dan praktek (iman dan moral)” dan bahwa “Kitab suci, tidak lebih dan tidak kurang, dan tidak ada lagi yang lain- yang diperlukan untuk iman dan moral.” ((diterjemahkan dari Geisler, Norman L. dan MacKenzie, Ralph E., Roman Catholics and Evangelicals: Agreements and Differences (Grand Rapids: Baker, 1995) ))

 

Apakah yang ajaran Gereja Katolik dalam hal ini?

Gereja Katolik mengajarkan bahwa Wahyu Ilahi tidak saja disampaikan kepada kita dengan cara tertulis sebagai pembicaraan Allah (speech of God) dalam Kitab Suci, tetapi juga dalam bentuk Sabda Allah yang disampaikan secara lisan dari Kristus dan Roh Kudus kepada para rasul. ((lih. Katekismus Gereja Katolik no. 81, Dei Verbum 9))Pengajaran yang bersumber dari ajaran lisan ini disebut sebagai Tradisi Suci, kemudian juga dituliskan dan diturunkan kepada para penerus Rasul. Maka karena sumbernya sama, maka keduanya berhubungan erat sekali, terpadu, tidak mungkin bertentangan, karena mengalir dari sumber yang sama dan mengarah ke tujuan yang sama yaitu Tuhan sendiri. ((lih. Katekismus Gereja Katolik no. 80, 81, Dei Verbum 9)).
Selanjutnya dikatakan dalam Katekismus Gereja Katolik demikian:
KGK 82    Dengan demikian maka Gereja yang dipercayakan untuk meneruskan dan menjelaskan wahyu, “menimba kepastiannya tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui Kitab Suci. Maka dari itu keduanya [baik Tradisi maupun Kitab Suci] harus diterima dan dihormati dengan cita rasa kesalehan dan hormat yang sama.” (Konsili Vatikan II, Dei Verbum 9).
Dengan demikian, kita ketahui Gereja Katolik tidak mengatakan bahwa Kitab Suci “lebih tinggi/ lebih penting” dari Tradisi Suci, melainkan menekankan kesatuan antara keduanya, yaitu Kitab Suci dan Tradisi Suci pada tingkat yang sama, karena keduanya berasal dari Tuhan dan mengarahkan umat beriman kembali kepada Tuhan. Gereja Katolik tidak “merendahkan” Kitab Suci dalam hal ini, melainkan hanya menyampaikan bahwa Kitab Suci bukan satu-satunya pedoman iman karena memang Tuhan menyampaikan Sabda-Nya tidak hanya melalui Kitab Suci.

Sola Scriptura tidak sesuai dengan ajaran Kitab Suci

Jika “Sola Scriptura” adalah doktrin yang benar, tentunya Kitab Suci harus secara eksplisit mengatakannya, namun tidak demikian yang kita baca dari Kitab Suci:
1. Kitab Suci memberitahukan kepada kita pentingnya pengajaran lisan para rasul.
Jemaat mula-mula “bertekun dalam pengajaran rasul-rasul… ” (Kis 2:42, lih. 2 Tim 1:14), dan ini sudah terjadi sebelum kitab Perjanjian Baru ditulis, dan berabad- abad sebelum kanon Perjanjian Baru ditetapkan.
Kitab Suci juga mengatakan bahwa pengajaran para rasul disampaikan secara lisan, “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.” (2 Tim 2:2); dan bahwa pengajaran para rasul tersebut disampaikan “baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2 Tes 2:15; lihat juga 1 Kor 11:2)
2. Kitab Suci mengatakan bahwa tidak semua ajaran Kristus terekam dalam Kitab Suci.
“Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.” (Yoh 21:25)
Kitab Perjanjian Baru sendiri mengacu kepada Tradisi suci, yaitu pada saat mengutip perkataan Yesus yang tidak terekam pada Injil, yaitu pada Kis 20:35.
3. Kitab Suci sendiri mengatakan bahwa Kitab Suci memerlukan pihak yang mempunyai otoritas untuk menginterpretasikannya (lih. Kis 8:30-31; 2 Pet 1:20-21; 2 Pet 3:15-16). Rasul Petrus mengatakan bahwa ada hal-hal di dalam Alkitab yang memang sulit untuk dicerna, dan ketidakhati-hatian dalam penafsiran akan mendatangkan kesalahan yang fatal. Berapa banyak kita mendengar dari agama lain, yang menggunakan Alkitab untuk menyanggah kebenaran iman Kristen, seperti tentang ajaran Tritunggal Maha Kudus, ataupun bahwa Yesus adalah sungguh- sungguh Tuhan.
4. Kristus memberikan otoritas kepada Gereja yang dimulai dari para rasul-Nya untuk mengajar dalam nama-Nya (lih. Mat 16:13- 20; 18:18; Luk 10:16). Gereja akan bertahan sampai pada akhir jaman, dan Kristus oleh kuasa Roh Kudus akan menjaganya dari kesesatan (lih. Mat 16:18; 28:19-20; Yoh 14:16). Karena itu, Kristus memberikan kuasa wewenang mengajar kepada Magisterium Gereja yang terdiri dari para rasul dan para penerusnya. Magisterium/ wewenangan mengajar ini hanya ada untuk melayani Sabda Allah, sehingga ia tidak berada di atas Kitab Suci maupun Tradisi Suci, namun melayani keduanya.
5. Kitab Suci mengacu kepada Tradisi Suci untuk menyelesaikan masalah di dalam jemaat, contohnya dalam hal sunat. Pada saat terjadinya krisis itu sekitar tahun 40-an, kitab PB belum terbentuk, dan Kristus sendiri tidak pernah mengajarkan secara eksplisit tentang sunat ini. Namun atas inspirasi Roh Kudus, atas kesaksian Rasul Petrus, maka Konsili Yerusalem menetapkan bahwa sunat tidak lagi diperlukan bagi para pengikut Kristus (Kis 15). Konsili inilah yang menginterpretasikan kembali Kitab Suci PL yang mengharuskan sunat (lih. Kej 17, Kel12:48) dengan terang Roh Kudus dan penggenapannya oleh Kristus dalam PB, sehingga ketentuan sunat tidak lagi diberlakukan. Di dalam Konsili itu, Magisterium Gereja: para rasul dan penerusnya, dan pemimpin Gereja lainnya berkumpul untuk memeriksa Sabda Tuhan, yang tertulis atau yang tidak, dan membuat suatu pengajaran apostolik sesuai dengan ajaran Kristus.
6. Maka di sini terlihat bahwa Gereja/ jemaat (bukan Kitab Suci saja) adalah “tiang penopang dan dasar kebenaran.” (1 Tim 3:15) Kristus mendirikan Gereja, dan bukannya menulis Kitab Suci, tentu juga ada maksudnya, bahwa Gereja-lah yang dipercaya oleh Kristus untuk mengajar dan menafsirkan semua firman-Nya.
7. Kitab Suci tidak mengatakan bahwa Kitab Suci adalah satu-satunya sumber Sabda/ Firman Tuhan. Kristus itu sendiri adalah Firman Allah (lih. Yoh 1:1, 14) dan dalam 1 Tes 2:13 Rasul Paulus mengatakan bahwa ia telah menyampaikan pemberitaan Firman Allah (“when you received the Word of God which you heard from us“- RSV) dan ini adalah Tradisi Suci.

Sola Scriptura tidak sesuai dengan sejarah Gereja

Selanjutnya, jangan lupa bahwa Tradisi Suci sudah ada lebih dahulu dari Kitab Suci, dan yang melahirkan Kitab Suci adalah Tradisi Suci melalui Magisterium Gereja Katolik.
Jika kita mempelajari sejarah Gereja, kita akan mengetahui bahwa Tradisi Suci, yaitu pengajaran iman Kristiani yang berasal dari pengajaran lisan Kristus dan para rasul itu sudah ada terlebih dahulu daripada pengajaran yang tertulis. Silakan anda membaca bagaimana terbentuknya Kitab Suci yang terbentuk pertama kali menurut kanon yang ditetapkan oleh Paus Damasus I pada tahun 382, Konsili Hippo (393), Carthage (397) dan Chalcedon (451) seperti yang pernah ditulis di artikel ini, silakan klik. Ini adalah bukti penerapan ayat 1 Tim 3:15. Jadi mengatakan bahwa Kitab Suci saja “cukup” atau “hanya satu-satunya” sebagai pedoman iman, itu tidaklah benar, sebab asal mula Kitab Suci itu sendiri melibatkan Tradisi Suci dan Magisterium Gereja.

Sola Scriptura membawa perpecahan Gereja

Sering kita melihat bahwa perpecahan gereja diakibatkan karena keinginan untuk menafsirkan ayat-ayat Kitab Suci secara pribadi. Sebagai contoh Martin Luther, John Calvin dan Ulrich Zwingli mempunyai banyak perbedaan pandangan dalam hal Ekaristi Kudus dalam menginterpretasikan perikop Yoh 6, hal Pengakuan Dosa, dll. Pendapat manakah yang benar dari para pendiri ini, yang masing-masing mendasarkan ajarannya hanya berdasarkan Alkitab? Belum lagi dalam hal- hal lain seperti apakah Pembaptisan itu perlu atau hanya simbol saja, hal Pembaptisan bayi, Pembaptisan dalam nama Allah Trinitas atau dalam nama Yesus saja, dan seterusnya. Tiap-tiap kelompok yang bertentangan mengklaim bahwa Alkitab saja cukup jelas untuk menentukannya, namun terjadi bermacam- macam interpretasi. Maka secara fakta harus diakui bahwa Alkitab saja tidak cukup jelas mengajarkannya, dan diperlukan peran otoritas Magisterium untuk menginterpretasikannya.
Hal ini mirip dengan yang terjadi di setiap negara, yang mempunyai konstitusi, namun juga mempunyai kekuasaan yudikatif untuk menginterpretasikannya dengan benar. Jika setiap warga dapat mengartikan sendiri konstitusi ini, tanpa adanya kuasa otoritas yang menjaga dan melestarikannya, maka dapat terjadi kekacauan. Tuhan pastilah lebih bijaksana daripada para bapa pendiri negara dalam hal ini. Ia tidak mungkin hanya meninggalkan dokumen tertulis sebagai pedoman tanpa otoritas untuk menjaga dan menginterpretasikannya dengan benar.
Kalau memang “hanya Alkitab” saja cukup, dan dapat membawa persatuan Gereja, bersama-sama kita perlu merenungkan, kenapa setelah revolusi Gereja oleh Martin Luther di abad pertengahan, gereja menjadi terpecah belah sehingga sampai saat ini ada sekitar 28,000 denominasi? Seharusnya kalau memang kembali kepada kemurnian jemaat awal, katanya hanya berdasarkan Alkitab, maka Gereja seharusnya bersatu dan bukannya tercerai berai. Hal ini sungguh bertentangan dengan pesan Yesus terakhir yang menginginkan seluruh dunia melihat ada kesatuan di dalam tubuh Kristus, sehingga dunia dapat tahu bahwa kita semua adalah pengikut Kristus (lih Yoh 17). Dan inilah yang menjadi kerinduan Gereja Katolik untuk menyatukan seluruh umat Allah, sebagaimana tertuang dalam salah satu dokumen Konsili Vatikan II, yaitu Dekrit tentang Ekumenisme (Unitatis Redintegratio).

Tiga pilar kebenaran: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja

Jika kita telah mengetahui bahwa Sola Scriptura tidak sesuai dengan ajaran Alkitab itu sendiri, maka kita dapat melihat pula bahwa sebenarnya Kristus telah menentukan tiga pilar kebenaran yang tidak terpisahkan yaitu: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium. Silakan membaca lebih lanjut di artikel ini, Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan, bagian 3, silakan klik.

Ayat yang umumnya digunakan untuk menyatakan pandangan Sola Scriptura

Sekarang mari kita melihat kepada ayat-ayat yang sering digunakan sebagai dasar Sola Scriptura ((disarikan dari Fr. Frank Chacon dan Jim Burnham, Beginning Apologetics 7, (Farmington: San Juan Catholic Seminars, 2003), hl. 17-19)):
1. 2 Tim 3:16-17  “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”
Ada banyak orang menginterpretasikan bahwa karena ayat ini, maka mereka hanya membutuhkan Kitab suci untuk menjadi umat Kristen yang baik. Padahal pada saat surat kepada Timotius ini ditulis, kanon Kitab Suci belum ada. Jadi di kalangan jemaat masih beredar berbagai tulisan, dan jemaat tidak dapat tahu dengan pasti, mana tulisan yang “diilhami oleh Allah”, dan mana yang tidak.
Lihatlah juga bahwa “sesuatu yang bermanfaat” itu bukan berarti hanya satu-satunya yang kita perlukan, atau segalanya yang kita butuhkan. Sesuatu dapat bermanfaat, tetapi tidak menjadi satu-satunya yang kita butuhkan. Misalnya, cahaya matahari diperlukan untuk tanaman agar tumbuh, tetapi tanaman juga memerlukan air dan tanah agar dapat bertumbuh dengan baik.
Juga perkataan “diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” juga tidak dapat dijadikan dasar bahwa Kitab Suci secara total mencukupi semuanya. Rasul Paulus pada 2 Tim 2:19-21 juga menggunakan frasa yang sama, pada waktu mengatakan, “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.” (pan ergon agathon- dalam bahasa Yunani). Jika logika yang sama dipakai untuk mengartikan ayat ini, maka pandangan tersebut mengatakan bahwa perbuatan menyucikan diri adalah “cukup”, tanpa kasih karunia, iman dan pertobatan, dan ini adalah kesimpulan yang keliru.
2. Ul 4:2 “Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya….”
Ada orang yang berpendapat, dengan adanya ayat ini maka Kitab Suci sudah cukup, dan segala “tambahan” di luar Kitab Suci berarti tidak diilhami Tuhan. Namun jika logika ini yang dipakai, maka semua kitab dalam Kitab Suci selain kitab Ulangan dianggap sebagai “tambahan” Wahyu Allah yang hanya sampai pada kitab Ulangan. Dan tentu ini tidak benar, karena Inkarnasi Kristus, yaitu panggenapan Wahyu Allah tersebut, malah ada berabad- abad setelah kitab Ulangan ditulis.
3. Mat 4:1-11 Tiga kali Yesus menanggapi pencobaan Iblis dengan Kitab Suci, “Ada tertulis….”
Ada yang berpendapat, bahwa dari ayat ini Kristus mengacu hanya kepada Kitab Suci, dan tidak kepada Tradisi Suci atau Gereja. Namun sebenarnya Yesus mengatakan, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (ay.4) Namun Kitab Suci juga mengatakan bahwa tidak semua perkataan Tuhan tercantum dalam Kitab Suci, sebab banyak di antaranya juga sampai kepada kita lewat pengajaran lisan (lih. Yoh 21:25; Kis 20:27; 2 Tes 2:14-15, 3:6; 2 Tim 2:2). Dan jangan kita lupa, bahwa Kristus sendiri adalah Sabda Allah (Yoh 1:1, 14) yang tidak dapat dibatasi oleh tulisan dan lembaran-lembaran Kitab Suci.
Maka di sini Yesus tidak sedang mengajarkan Sola Scriptura, tetapi sedang mengajarkan kita untuk berpegang pada semua pengajaran yang dikatakan-Nya, tidak hanya yang tertulis di Kitab Suci. Lagipula jangan lupa, Iblispun mengutip Kitab Suci untuk maksud yang tentu saja keliru dan jahat. Jadi kita harus memahami Kitab Suci dan menginterpretasikannya dengan benar. Ingatlah pesan Rasul Petrus pada saat mengomentari surat Rasul Paulus, “Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.” (2 Pet 3:16)
4. Mat 15:3 “Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?” (lih. Mrk 7:7-9, Kol 2:8)
Di sini kita melihat tradisi/ paradosis yang dikecam oleh Yesus dan Rasul Paulus adalah tradisi manusia yang bertentangan dengan hukum-hukum dan perintah-perintah Tuhan. Mereka tidak sedang mengecam semua tradisi/ paradosis, sebab Rasul Paulus mengatakan juga demikian,
“Aku harus memuji kamu, sebab dalam segala sesuatu kamu tetap mengingat akan aku dan teguh berpegang pada ajaran [tradisi/ paradosis] yang kuteruskan kepadamu.” (1 Kor 11:2)
“Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran [tradisi/ paradosis] yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis. (2 Tes 2:15)
5. Why 22: 18-19: “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.”
Ada pula yang mengartikan ayat ini dengan mengatakan bahwa Gereja Katolik menambahkan Tradisi Suci kepada Kitab Suci, sehingga ini tidak benar. Namun pada ayat ini yang dimaksud dengan “kitab ini” adalah kitab Wahyu itu sendiri, dan bukan Kitab Suci secara keseluruhan. “Kitab ini” juga mengacu kepada “scroll“/ gulungan naskah di mana kitab dituliskan. Maka perintah ini mengacu kepada larangan agar jangan mengadakan perubahan pada salinan teks kitab Wahyu ini, dan ini juga berlaku pada kitab-kitab lainnya.

Kesimpulan

Sola Scriptura” atau Kitab Suci sebagai satu-satunya pedoman iman, bukanlah merupakan pengajaran yang bersumber dari Kitab Suci. Kitab Suci adalah sebagian dari Tradisi Suci Gereja, sehingga Kitab Suci tidak dapat dipisahkan dari Tradisi Suci secara keseluruhan, yang dijaga dan dilestarikan oleh otoritas Magisterium Gereja Katolik. Kristus mendirikan Gereja untuk mengajar, menyucikan dan memimpin umat manusia dalam nama-Nya, sampai kepada akhir jaman. Maka jika kita menolak otoritas dari Tuhan ini, yang diberikan kepada para rasul dan para penerusnya, maka sesungguhnya kita menolak Kristus (lih. Luk 10:16). Gereja Katolik menerima Kitab Suci sebagai salah satu pedoman iman (lihatlah kepada Katekismus dan hasil- hasil Konsili yang mengutip banyak sekali ayat Kitab Suci sebagai landasan ajarannya), dan karenanya, menerima otoritas Kitab Suci sebab Kitab Suci merupakan Sabda Allah. Namun umat Katolik tidak dapat menerima Kitab Suci sebagai satu-satunya pedoman iman (Sola Scriptura), terutama karena Kitab Suci sendiri tidak mengajarkan demikian. Selain itu, Sola Scriptura juga bertentangan dengan sejarah, karena pada faktanya Gereja-lah yang menentukan kitab-kitab mana yang termasuk di dalam Kitab Suci, dan kitab-kitab mana yang tidak. Akhirnya, Sola Scriptura juga bertentangan dengan akal sehat dan membawa perpecahan, karena bahkan di kehidupan sehari-haripun, kita mengetahui bahwa setiap peraturan tertulis (contohnya konstitusi negara) memerlukan otoritas yang menjaga, menjamin dan menginterpretasikannya dengan benar. Jika tidak, tentu terjadi kekacauan, karena tiap pribadi dapat mempunyai pandangan yang berbeda. Dan ini sungguh telah terbukti dengan adanya sekitar 28.000 jumlah denominasi gereja Protestan. Jika kita memakai prinsip yang diajarkan Kristus untuk menilai apakah pohon itu baik atau tidak dari buahnya (Mat 12:33, Luk 6:44), maka kita akan mengetahui apakah ajaran Sola Scriptura itu baik atau tidak.
Semoga Roh Kudus sendiri menerangi kita untuk mengetahui kebenaran ini, bahwa memang Kitab Suci adalah sangat perlu dan sangat penting untuk menuntun dan menumbuhkan iman kita, namun Kitab Suci bukan satu-satunya pedoman iman kita. Sebab Tuhan Yesus telah memberikan kepada kita Magisterium Gereja yang menyampaikan juga ajaran lisan dari-Nya dan para rasul -yaitu Tradisi Suci, dan Magisterium ini dengan setia menginterpretasikan semua ajaran itu dalam terang Roh Kudus sesuai dengan ajaran Kristus dan para rasul.



Ingrid Listiati
Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

Jumat, 02 Agustus 2019

PERLUASAN DAN PENDIDIKAN IMAN KATOLIK


Dalam rangka perluasan dan pendidikan iman Katolik maka kami Legio Mariae mengambil bagian memperkuat gereja dalam bentuk pembekalan bagi calon2 perwira yg nanti nya akan menjadi motor dalam pergerakan kami. Kami mencoba menjaring mereka lewat media sekolah SMP ,SMA Katolik maupun Negeri. Silahkan meliat foto2 seru mereka.





PERTEMUAN DEWAN SENATUS BEJANA ROHANI JAKARTA DAN DEWAN KOMISIUM RATU SEGALA HATI.


Pada tanggal 28 Juli 2019 kami Dewan Komisium Segala Hati kedatangan tamu dari Dewan tertinggi wilayah barat Indonesia yaitu Dewan Senatus Bejana Rohani Jakarta untuk selanjutnya saya sebut dgn SBR. SBR melakukan kunjungan ke Palangkaraya dalam rangka ingin bertemu dengan dewan2 yg ada di bawah Komisium Palangkaraya. Hadir dalam pertemuan tersebut Kuria Bunda Pemersatu Sampit,Kuria Santa Bunda Allah P.bun,Buntok ,Muara Teweh, dan Kapuas.

Untuk melihat kegiatan kami akan saya tampilkan foto2 kami .




PERCIK KATEKESE : "MADONNA LACTANS" YANG MENYUSUI BAYI YESUS

APAKAH Anda pernah melihat patung atau lukisan Bunda Maria menyusui?

Saat ziarah ke Chiesa Rupestri Santa Lucia Alle Malve di Matera, Italia Selatan, saya melihat ada ikon atau lukisan Bunda Maria sedang menyusui. Lukisan itu langsung digambar di dinding gereja.

Demikian pula saat jalan-jalan 'sore di Massafra, saya melihat ada galeri lukisan yang memajang lukisan tersebut. Lukisan yang sama juga pernah saya lihat di museum Gereja Katedral di Kota Siena, Toscana, Italia.

Di dalam Gereja Katolik ada istilah “Virgo Lactans” atau “Madonna Lactans”, yaitu sebuah ikonografi Bunda Maria dan sang Bayi, di mana Bunda Maria ditampilkan sedang menyusui bayi Yesus.

Penggambaran tersebut pernah disebutkan oleh Paus Gregorius Agung (540-604). Dia adalah santo pelindung para musisi, penyanyi, pelajar, dan guru.

Menurut para ahli, ada sebuah gambar mosaik yang diyakini berasal dari abad ke-12 ditemukan di bagian depan Basilika Santa Maria Trastevere di Roma. Ikonograh seperti ini juga masih dapat ditemukan dalam ikon-ikon Ortodoks (Yunani: Galaktotrophousa).

Lucetta Scaraffia, sejarawan Gereja, mengungkapkan bahwa gambar tersebut mengungkapkan sosok Bunda Maria sebagai seorang wanita yang lembut dan seorang ibu yang penuh kasih.

Ditegaskan,“ Bayi Yesus adalah bayi seperti semua manusia lain,keilahian-Nya tidak mengecualikan kemanusian-Nya".

Bahkan dalam sejarah Gereja, patung atau lukisan “Bunda Maria menyusui Bayi Yesus" dihormati sebagai Maria Pelindung bagi Pasutri yang Mengharapkan segera memiliki keturunan,pelindung para ibu yang memilki bayi,pelindung para bayi,lambang kasih sayang keibuan Maria kepada semua anaknya dan juga sebagai teladan bagi semua ibu dalam merawat anak-anaknya.

1 Agustus 2019
By : Romo Yohanes Gunawan,Pr

PS : Disarikandari berbagai sumber
http://www.sesawi.net