Halaman
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Jumat, 18 Oktober 2019
Kamis, 08 Agustus 2019
Menjadi Pembantu Sejati
Para pria paruh baya itupun maju dengan rapi. Di hadapan bangku umat,
sudah berjajar rapi 12 kursi yang disediakan misdinar. Merekapun duduk
di situ sementara Romo Sigit menyiapkan kain dan air dalam baskom. Sang
imam selebran pun mendekat kepada seorang bapak tua di ujung deretan
kursi dan mulai membasuh kakinya. Seperti biasa, Misa Kamis Putih
menghadirkan kembali kenangan ketika Yesus membasuh kaki keduabelas
murid-Nya.
Wajah para bapak itu cukup bervariasi. Beberapa terlihat biasa saja.
Beberapa terlihat agak sungkan. Tapi ada seorang bapak yang mimik
mukanya cukup lucu. Wajahnya menunjukkan campuran antara malu, geli, dan
merasa tidak layak. Aku menebak-nebak kalau si bapak merasa sungkan
karena belum pernah melayani di paroki. Memang, biasanya umat yang
dibasuh kakinya adalah umat yang diharapkan aktif melayani di paroki.
Aku pun membayangkan apabila seandainya aku berada di posisi serupa.
Pembasuhan kaki memang melambangkan kerendahan hati dan pelayanan.
Yesus membasuh kaki para rasul-Nya untuk memberi mereka teladan untuk
saling melayani. Melalui pembasuhan kaki, Yesus menunjukkan bahwa
seorang pengikut Kristus harus melayani. Aku merasa sudah melakukannya
karena aku sudah melibatkan diri dalam pelayanan. Namun, rasanya ada hal
lain yang Tuhan ingin sampaikan padaku. Bagaimana dengan pelayananku
selama ini? Apakah aku sudah melayani dengan hati seorang pelayan?
Lamunanku terhenti sebentar karena rombongan bapak mulai meninggalkan
depan altar. Pembasuhan kaki sudah selesai rupanya. Sambil terus
memperhatikan si bapak bermimik muka lucu, aku lanjutkan lamunanku. Apa
maksudnya melayani dengan hati pelayan?
Aku membayangkan Yesus yang sedang membasuh kaki para rasul-Nya. Hari
itu, Ia menjadikan diri-Nya seorang pembantu. Ia membasuh kaki mereka
satu persatu secara bergantian tanpa kecuali. Baik St. Yohanes yang Ia
kasihi, maupun Yudas yang Ia tahu akan mengkhianatiNya malam itu juga.
Tanpa kecuali. Sekalipun Ia tahu Yudas akan segera menyerahkanNya pada
kaum Farisi, Ia tetap membasuh dan membersihkan kakinya dengan lembut.
Sekalipun Ia tahu Yudas akan memilih meninggalkanNya dengan bunuh diri,
Ia tetap mengecup kakinya dengan cinta. Ia mengajar kita untuk mencintai
musuh dan Ia buktikan dalam perbuatanNya (Mat 5:44).
Bagian “tanpa kecuali” inilah yang tampaknya sulit aku lakukan.
Melayani dengan tulus demi orang yang kukasihi alamiah dan mudah.
Melayani dengan tulus demi orang yang tidak mengasihiku? Lain cerita.
Sekuat-kuatnya, aku hanya bisa memajang senyuman, paling tidak supaya
orang tersebut tidak tersinggung. Tapi, senyuman itu belum menjadi
senyuman tulus dari hati. Pelayananku masih belum tulus sepenuhnya
karena masih belum “tanpa kecuali”. Pelayananku belum memiliki hati
seorang pelayan. Aku perlu belajar dari sang Pelayan, Yesus, yang
melayani tanpa kecuali, baik mereka yang mencintaiNya, maupun mereka
yang membenciNya.
Aku harus selalu ingat bahwa Tuhan memberikan rahmat-Nya yang manis
pada semuanya, baik orang jahat maupun baik (bdk. Mat 5:45). Lidah orang
jahat maupun baik sama-sama mengecap rasa manis pada gulali. Gulaliku
harus terasa manis, baik untuk lidah orang jahat maupun baik, supaya
semua lidah memuliakan nama Tuhan.
“Melayani Allah bukanlah suatu beban, melainkan kehormatan. Jauh dari
membuat kita sebagai budak, pelayanan sebenarnya malah membebaskan
kita” – St. Petrus Krisologus
IOANNES
Seorang biasa yang dipanggil Yesus untuk mengikutiNya dan bersatu dengan denganNya dalam Gereja yang Ia dirikan sendiri. Mencintai santo-santa dan berharap boleh mendapat anugerah ketaatan dan kerendahan hati seperti mereka. Saat ini sedang meretas jalan dan kesiapan diri untuk bergabung dengan salah satu ordo religius.Website : http://katolisitas.org
Selasa, 06 Agustus 2019
Apa artinya menjadi Katolik?
“Kamu masih Katolik?”
Pertanyaan ini mungkin terdengar janggal, tetapi pertanyaan ini
pernah ditanyakan kepada saya belasan tahun yang lalu, oleh teman masa
kecil saya. Sewaktu remaja dulu, kami pernah sama-sama aktif di paroki,
menjadi anggota Legio Mariae dan anggota salah satu koor di paroki kami.
Kini ia telah berpindah ke gereja non-Katolik, karena konon ia lebih
dapat bertumbuh secara rohani di sana. Dia begitu antusias mengisahkan
pengalaman barunya di komunitas tersebut, dan kemudian menanyakan
pertanyaan yang mengusik hati saya, “Kalau kamu bagaimana, masih
Katolik, ya?” Seolah menjadi Katolik itu sesuatu keputusan yang kurang
tepat dan harus diubah. Saya menjawabnya lirih, “Ya, saya masih Katolik,
dan saya akan tetap Katolik….” Tapi saya tidak tahu bagaimana
melanjutkan kalimat itu. Saya bersyukur, seiring dengan berjalannya
waktu, melalui ajaran iman dan pengalaman hidup, sedikit demi sedikit,
kutemukan jawabannya….
Menjadi Katolik artinya menerima dengan iman, wahyu Tuhan dan undangan-Nya kepada persatuan dengan-Nya
Sebagai murid Kristus, kita tidak hanya mengikuti sebuah buku, tetapi
Seorang Pribadi, yaitu Yesus Kristus. Itulah sebabnya kita disebut
sebagai “Christ-ian” atau Kristiani/ Kristen. Pribadi yang kita
ikuti dan kita jadikan pusat dalam hidup kita ini, adalah Pribadi yang
mengasihi kita, yang menyatakan kasih-Nya itu dan mewahyukan Diri-Nya
secara penuh kepada kita. Karena kasih-Nya yang sempurna inilah, Kristus
ingin terus tinggal di tengah kita dan bersekutu/ bersatu dengan kita.
Sebab kasih selalu menginginkan kebersamaan. Kristus menghendaki
kebersamaan atau persekutuan antara kita dengan Dia, atas dasar kasih
dan kebenaran, sebab Ia Allah yang adalah Sang Kasih (1 Yoh 4:8) dan
Kebenaran (Yoh 14:6). Maka menjadi Katolik, pertama-tama adalah
menanggapi dengan iman, pewahyuan Allah dan undangan-Nya kepada
persatuan (komuni) dengan-Nya. Maka, menjadi Katolik adalah menjadi
seorang Kristiani, titik. Sebab seorang Kristiani sudah seharusnya
menerima segala yang diwahyukan Allah di dalam Kristus.
Iman yang dimaksud di sini, menurut Konsili Vatikan II,[1] Katekismus[2], dan pengajaran Paus Yohanes Paulus II[3]
adalah iman yang terdiri dari dua unsur. Yang pertama adalah unsur
pribadi, yaitu percaya kepada Allah, akan segala kasih dan
kebijaksanaan-Nya, sehingga kita mau menyerahkan diri kita tanpa syarat
kepada-Nya. Dengan kata lain, kita lebih percaya akan kebijaksanaan
Allah daripada kebijaksanaan diri sendiri untuk menentukan kebahagiaan
kita, dan kita lebih percaya akan kuasa rahmat-Nya daripada kekuatan
sendiri untuk mencapainya. Yang kedua adalah unsur obyektif, yaitu kita
percaya akan isi wahyu yang diberikan Tuhan, dan memegangnya sebagai
sesuatu yang ilahi. Maka unsur pertama adalah percaya kepada Allah yang
mewahyukan dan unsur kedua adalah percaya kepada apa yang
diwahyukan-Nya. Dengan demikian, iman dapat digambarkan dengan perkataan
ini: “Kalau Tuhan yang saya percayai sebagai Pribadi yang baik, penuh
cinta kasih, dan bijaksana, telah mewahyukan sesuatu kepada saya, maka
atas hormat dan kasih kepada-Nya, saya mau menerima apa yang
diwahyukan-Nya itu.”
Keempat Tanda Gereja sejati: satu, kudus, katolik, apostolik
Iman Katolik mengajarkan bahwa Tuhan yang kepada-Nya kita percaya,
telah berbicara melalui Kristus, Putera-Nya (lih. Ibr 1:1-4). Sebab
Allah mewahyukan bahwa Ia yang dalam Perjanjian Lama juga disebut
sebagai Yahweh, Adonai, atau Yehovah, adalah satu dan sama hakekatnya
dengan Yesus Kristus, sebab Kristus mengatakan, “Bapa dan Aku adalah
satu.” (Yoh 10:30). Kristus yang sama ini mendirikan Gereja-Nya (lih.
Mat 16:18) yang oleh kuasa Roh Kudus, diberi karunia kesatuan,
kekudusan, keseluruhan dan kesinambungan dengan jalur apostolik di
sepanjang sejarah. Dengan mendirikan Gereja-Nya, dan memberikan kuasa
kepada Gereja untuk membaptis dan mengajarkan semua perintah-Nya (lih.
Mat 28:19-20), Kristus menjadikan Gereja sebagai sarana yang perlu untuk
keselamatan.
Peran Gereja sebagai tanda dan sarana keselamatan, di mana Allah
terus melaksanakan karya penyelamatan-Nya, secara sempurna dinyatakan
dalam perayaan Ekaristi. Itulah sebabnya dikatakan bahwa Gereja lahir
dari Ekaristi, dan Ekaristi lahir dari Gereja. Sebab Gereja lahir/
memperoleh hidupnya dari pengorbanan Kristus. Sakramen-sakramen sebagai
peringatan akan pengorbanan Kristus itu- terus menghidupi Gereja, dan
Gereja terus menghadirkannya.[4]
Tanda apostolik menjamin kesatuan, kekudusan dan kekatolikan Gereja
Mungkin ketiga tanda Gereja yaitu satu, kudus dan katolik
(universal), lebih mudah diterima, daripada tanda yang terakhir, yaitu
apostolik. Namun sejujurnya tanda yang keempat ini merupakan tanda yang
paling jelas menunjukkan bahwa seperti halnya dahulu Kristus hadir
secara aktif di tengah para Rasul, kini, Ia-pun hadir secara aktif di
tengah Gereja-Nya. Meskipun Ia sudah bangkit dan naik ke surga, Kristus
tetap hadir dan melanjutkan misinya di dunia, di dalam Gereja dan
melalui Gereja. Maka ada hubungan yang tak terpisahkan antara Kristus
dan Gereja. Gereja itu satu, kudus dan katolik, sebab Kristus itu satu,
kudus dan katolik, dan Ia kini tetap hadir dalam Gereja-Nya sampai akhir
zaman.
Bahwa Kristus dapat hadir di tengah umat-Nya dalam berbagai cara,
namun ada satu cara yang dikehendaki-Nya, dan menjadi pusatnya. Pusat
ini adalah kehadiran Kristus yang nyata dalam Ekaristi, yang menjadi
sumber dan puncak kehidupan kita sebagai umat Kristiani (lih. KGK 1324).
Iman Katolik mengajarkan bahwa terdapat hubungan yang tak terpisahkan
antara sifat apostolik dengan kehadiran Kristus yang nyata dalam
Ekaristi. Paus yang adalah penerus Rasul Petrus, menjadi tanda yang
menghubungkan Gereja masa kini dengan Gereja di zaman para Rasul.
Sebagai prinsip yang menyatukan, Paus menjamin kesatuan kolese para
Uskup -yang adalah penerus para Rasul- yang menjadi tanda kesatuan
antara Gereja partikular/ lokal dengan Gereja universal. Kesatuan ini
bukan hanya semata saling mengakui keberadaan masing-masing, atau
sebagai hasil hubungan timbal balik antara gereja-gereja. Namun kesatuan
ini adalah kesatuan yang timbul dari dalam, yang hasilnya adalah
hadirnya Gereja universal dengan semua elemen dasarnya, di dalam setiap
gereja-gereja partikular tersebut.
Kehadiran Kristus secara nyata dalam Gereja, secara khusus dalam
Ekaristi dijamin oleh karunia sifat apostolik yang melayani ketiga tanda
Gereja: kesatuan, kekudusan dan kekatolikan. Kristus yang hadir secara
aktif atas kuasa Roh Kudus yang telah mengurapi para rasul dan para
penerus mereka, itulah yang menjadikan Gereja sebagai sakramen kesatuan
dan keselamatan bagi umat manusia. Ekaristi dan kesatuan dalam
kepemimpinan Paus bukanlah akar yang terpisah bagi kesatuan Gereja,
sebab Kristus menentukan keduanya untuk saling berhubungan satu sama
lain. Kepemimpinan Paus adalah satu, seperti Ekaristi adalah satu: yaitu
satu Korban dari satu Kristus, yang wafat dan bangkit. Maka dalam
setiap perayaan Ekaristi, dilakukanlah dan ditunjukkanlah kesatuan,
tidak saja dengan Uskup sebagai penerus para Rasul, tetapi juga dengan
Paus sebagai penerus Rasul Petrus sang pemimpin para Rasul, dengan semua
imam dan semua umat beriman yang adalah anggota Kristus, dan di atas
semua itu, dengan Kristus yang adalah Kepalanya.
Menjadi Katolik artinya mempercayakan diri kepada Tuhan melalui Gereja
Gereja Katolik memahami peran otoritas apostolik sebagai iman akan
janji Kristus yang akan menyertai Gereja-Nya, yang dibuktikan juga oleh
banyak tanda sepanjang sejarah, yang menunjukkan betapa Kristus menjaga
Gereja dan menghindarinya dari ajaran-ajaran yang menyimpang. Oleh iman
inilah, kita menyerahkan diri kepada Allah melalui Gereja, sebab
demikianlah yang dikehendaki oleh Allah.
Prinsip pengantaraan Gereja ini bukanlah hal yang baru atau
mengada-ada. Sepanjang sejarah umat pilihan, Allah menghendaki bahwa
kesetiaan kepada-Nya diukur juga dari kesetiaan kepada para nabi atau
pengantara yang ditunjuk olah-Nya. Setia kepada Allah di zaman
Perjanjian Lama, berarti juga setia kepada Nabi Musa. Keduanya tak
terpisahkan, sebagaimana tertulis dalam Kel 14:31. Kesetiaan kepada para
nabi berarti penerimaan terhadap apa yang dikatakan oleh mereka. Tuhan
menganggap bahwa penolakan terhadap ajaran para nabi merupakan penolakan
terhadap-Nya, seperti nyata dalam penolakan terhadap Nabi Yeremia (lih.
Yer 7:25-26). Di masa Yohanes Pembaptis, jawaban “Ya” terhadap
panggilan Tuhan dinyatakan dengan persetujuan untuk dibaptis (lih. Mrk
1:4; Luk 3:3) dan penerimaan terhadap pesannya yang memberitakan
kedatangan Kristus, Sang Anak Domba Allah (lih. Yoh 1:29,36).
Kristus menghubungkan penerimaan ataupun penolakan terhadap diri-Nya
dan Bapa yang mengutus-Nya, dengan penerimaan ataupun penolakan terhadap
mereka yang diutus oleh-Nya (lih. Luk 10:16). Maka Gereja mengajarkan
bahwa kesetiaan kepada Kristus ditunjukkan dengan penerimaan keseluruhan
kehendak-Nya (lih. Mat 28:19-20), termasuk pengantaraan Gereja
apostolik yang didirikan-Nya (lih. Mat 16:16-19). Dengan kata lain,
persetujuan iman terhadap Kristus mengambil bentuk konkritnya dalam
persetujuan terhadap semua yang telah dinyatakan dan didirikan oleh-Nya,
termasuk Gereja-Nya.
Menjadi Katolik artinya setia kepada Tuhan, Kristus, Gereja dan diri sendiri
Rasul Yohanes mengajarkan bahwa kesetiaan kepada Tuhan diukur dari
kesetiaan kepada keseluruhan pengajaran yang dikenali sebagai wahyu
ilahi sejak awal mula (lih. 1 Yoh 2:24). Jika Allah menghendaki agar
kita menerima ajaran-Nya dengan menerima ajaran para nabi yang mencapai
puncaknya pada penggenapannya dalam diri Kristus, kita menerima kehendak
Allah ini, dengan menerima Kristus sepenuhnya. Sebab Kristus sepenuhnya
menyatakan Allah dan kasih-Nya kepada kita (Kol 1:19; 2:9), sehingga
Rasul Paulus mengatakan bahwa Kristus adalah segalanya (lih. Kol 3:11).
Maka penerimaan Kristus sepenuhnya ini termasuk dengan menerima segala
ajaran-Nya dan menjadi anggota Gereja yang didirikan-Nya. Jika Kristus
menjamin kuasa mengajar Gereja yang dilaksanakan oleh para rasul, secara
khusus, oleh Rasul Petrus dan para penerus mereka, maka demi ketaatan
kita kepada Kristus, kita mentaati juga ajaran Gereja-Nya tersebut.
Sebab kita mengingat perkataan Kristus sendiri kepada para murid-Nya,
“Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa
menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak
Dia yang mengutus Aku.” (Luk 10:16).
Dengan ketaatan yang menerima keseluruhan Kristus dan ajaran-Nya ini,
maka seorang Katolik memberikan kata “Ya” tanpa syarat dalam iman
kepada Allah. Pemberian persetujuan iman tanpa syarat ini, menjadi
tanggapan yang mendamaikan bagi hati kita sebagai manusia yang
senantiasa resah/ gelisah, sampai kita beristirahat di dalam Tuhan.[5]
Sebab dengan menyerahkan pemahaman kita kepada Kristus melalui
Gereja-Nya, kita tidak lagi perlu gelisah menginterpretasikan banyak hal
menurut pemahaman sendiri, yang dapat berbeda-beda antara satu orang
dengan yang lain, bahkan bertentangan, terhadap suatu topik pengajaran
yang sama. Dengan menerima sepenuhnya pengajaran Gereja, kita memperoleh
kepenuhan makna ajaran Kristus, dan ini menghasilkan ketenangan bagi
jiwa. Menarik jika kita menyimak tayangan Journey Home di situs
EWTN (Eternal Word Television Network) yang mengisahkan tentang
pencarian akan kepenuhan kebenaran yang membawa kepada Gereja Katolik, silakan klik.
Di sana ada lebih dari 700 kisah kesaksian dari mereka yang
non-Katolik, bahkan banyak di antaranya pendeta, yang akhirnya menjadi
Katolik karena setia mencari apa yang dirindukan oleh hati nurani mereka
sendiri, yang membawa mereka menemukan ‘rumah’ mereka yang sesungguhnya
di Gereja Katolik.
Menjadi Katolik artinya menjadi anggota Gereja yang lahir dari Hati Kudus Yesus
Namun bagi saya sendiri, pengalaman yang tak terlupakan dan begitu
mengena di hati saya, adalah ketika saya mendengar dan merenungkan
kutipan pengajaran dari St. Yohanes Krisostomus tentang Gereja. Ia
mengajarkan demikian:
“Mengalir dari rusuk-Nya, air dan darah”. Saudara saudari terkasih,
jangan lewatkan misteri ini tanpa permenungan; ini mempunyai makna
lainnya yang tersembunyi, yang akan kujelaskan kepadamu. Telah kukatakan
bahwa air dan darah menandakan Pembaptisan dan Ekaristi kudus. Dari
kedua sakramen ini, Gereja dilahirkan: dari Pembaptisan, [yaitu] “air
pembasuh yang memberikan kelahiran kembali dan pembaharuan melalui Roh
Kudus”, dan dari Ekaristi kudus. Karena simbol Pembaptisan dan Ekaristi
mengalir dari rusuk-Nya, maka dari rusuk-Nyalah Kristus membentuk
Gereja, seperti Ia telah membentuk Hawa dari rusuk Adam. Nabi Musa telah
memberikan secercah tanda tentang hal ini, ketika ia menceritakan kisah
tentang manusia pertama dan membuat Adam mengatakan: “Tulang dari
tulangku dan daging dari dagingku!” Sebagaimana Tuhan mengambil sebuah
tulang rusuk dari rusuk Adam untuk membentuk seorang perempuan,
demikianlah Kristus telah memberikan kepada kita darah dan air dari
rusuk-Nya untuk membentuk Gereja. Tuhan mengambil tulang rusuk tersebut
ketika Adam sedang tertidur lelap, dan dengan cara yang sama Kristus
memberikan darah dan air setelah kematian-Nya sendiri.
Maka, tidakkah kamu mengerti, betapa Kristus telah mempersatukan
Mempelai-Nya dengan diri-Nya sendiri, dan santapan apakah yang Ia
berikan kepada kita semua untuk kita makan? Dengan santapan yang satu
dan sama, kita dilahirkan dan diberi makan. Seperti seorang wanita
memberi makan anaknya dengan air susu dan darahnya sendiri, demikianlah
Kristus terus menerus memberi Darah-Nya sendiri kepada mereka yang
kepadanya Ia telah menyerahkan hidup-Nya.”[6]
Sudah lama saya mendengar bahwa Gereja adalah Mempelai Kristus,
tetapi saya tidak menyadari sedemikian eratnya hubungan Kristus dengan
Gereja-Nya, sampai saya membaca tulisan St. Yohanes Krisostomus ini.
Kristus adalah Adam yang baru, dan Gereja adalah Hawa yang baru, yang
dibentuk dari rusuk/lambung Kristus, yang dihubungkan juga dengan hati
kudus-Nya—sebab maksud prajurit itu menikam adalah menikam jantung hati
Kristus, untuk memastikan kematian-Nya. Hubungan Kristus dan Gereja
sebagai Adam dan Hawa yang baru, merupakan penggenapan sempurna kisah
Adam dan Hawa yang telah dikisahkan dalam Perjanjian Lama.
St. Yohanes Krisostomus bukan Bapa Gereja pertama yang mengajarkan
bahwa Gereja lahir dari tubuh Kristus, sebagaimana Hawa dari tubuh Adam.
St. Irenaeus (abad ke-2) mengajarkan bahwa Gereja bagaikan aliran mata
air yang mengalir dari tubuh Kristus, dan dari air ini kita memperoleh
santapan kehidupan.[7] St. Ambrosius juga mengajarkan demikian, sebagaimana dikutip dalam Katekismus:
KGK 766 Tetapi Gereja muncul terutama karena penyerahan diri
Kristus secara menyeluruh untuk keselamatan kita, yang didahului dalam
penciptaan Ekaristi dan direalisasikan pada kayu salib. “Permulaan dan
pertumbuhan itulah yang ditandakan dengan darah dan air, yang mengalir
dari lambung Yesus yang terluka di kayu salib.”[8] “Sebab dari lambung Kristus yang berada di salib, muncullah Sakramen seluruh Gereja yang mengagumkan.”[9]
Seperti Hawa dibentuk dari rusuk Adam yang sedang tidur, demikian
Gereja dilahirkan dari hati tertembus Kristus yang mati di salib.[10]
Pengajaran para Bapa Gereja ini membuka mata rohani saya, bahwa sejak
awal mula, Allah telah merencanakan kesempurnaan ciptaan-Nya, dengan
mempersatukan semua umat manusia ciptaan-Nya di dalam Kristus dan
Gereja. Tiba-tiba pengajaran di Katekismus menjadi ‘make sense‘
buat saya, setelah merenungkan penggenapan kisah Adam dan Hawa di dalam
diri Kristus dan Gereja sebagai Adam dan Hawa yang baru. Sebagaimana
manusia pertama—Adam dan Hawa—menjadi puncak karya penciptaan Allah,
demikianlah Kristus dan Gereja menjadi puncak karya keselamatan Allah.
Persatuan manusia dengan Kristus tercapai secara sempurna dalam diri
Bunda Maria, maka tak mengherankan, jika dalam tulisan yang lain para
Bapa Gereja menyebut Bunda Maria juga sebagai Hawa yang baru. Sebab
Bunda Maria adalah anggota pertama dan utama dari perkumpulan umat
manusia di dalam Kristus, yang kemudian disebut Gereja.
KGK 760 “Dunia diciptakan demi Gereja”, demikian ungkapan orang-orang Kristen angkatan pertama.[11]
Allah menciptakan dunia supaya mengambil bagian dalam kehidupan
ilahi-Nya. Keikut-sertaan ini terjadi karena manusia-manusia dikumpulkan
dalam Kristus, dan “kumpulan” ini adalah Gereja. Gereja adalah tujuan
segala sesuatu.[12]
Malahan peristiwa-peristiwa yang menyakitkan hati, seperti jatuhnya
para malaikat dan dosa manusia, hanya dibiarkan oleh Allah sebagai sebab
dan sarana, untuk mengembangkan seluruh kekuatan tangan-Nya dan
menganugerahkan kepada dunia cinta-Nya yang limpah ruah:
“Sebagaimana kehendak Allah adalah satu karya dan bernama dunia,
demikian rencana-Nya adalah keselamatan manusia, dan ini namanya
Gereja.”[13]
Gereja yang dimaksud di sini adalah satu-satunya Gereja yang
didirikan Kristus di atas Rasul Petrus (lih. Mat 16:18), dan bahwa
Kristus menjamin akan menyertainya sampai akhir zaman (Mat 28:19-20).
Sebagaimana hanya ada satu Hawa yang dibentuk dari Adam, demikian pula
hanya ada satu Gereja yang dibentuk dari Kristus. Maka Gereja tak pernah
terpisah dari Kristus. Gereja bukan sesuatu yang dibentuk sendiri oleh
beberapa orang beriman, dan kemudian diklaim sebagai Gereja Kristus.
Gereja adalah suatu ‘pemberian’ dari Kristus dan dibentuk sendiri oleh
Kristus, yang ditandai oleh darah dan air yang mengalir keluar dari
lambung-Nya yang terluka di kayu salib. Maka rencana Allah untuk
mempersatukan seluruh dunia di dalam Kristus sudah ada sejak awal mula,
namun rencana ini baru mulai terwujud pada saat Gereja dibentuk dari air
dan darah yang keluar dari lambung Yesus yang tertikam di salib. Gereja
ini kemudian ditampilkan kepada dunia pada hari Pentakosta, dengan
datangnya Roh Kudus.[14]
Satu-satunya Gereja yang didirikan oleh Kristus di atas Rasul Petrus,
yang masih ada sampai sekarang di bawah pimpinan penerus Rasul Petrus
adalah Gereja Katolik. Jika Kristuslah yang mendirikan Gereja ini, dan
yang telah menyerahkan nyawa-Nya baginya, maka sudah selayaknya saya
memutuskan untuk menjadi anggota Gereja-Nya ini.
Maka menjadi Katolik bagi saya tidaklah semata suatu kebetulan,
karena dilahirkan oleh orang tua yang Katolik. Saya menjadi Katolik
karena ingin mentaati Allah sepenuhnya, yang telah mewahyukan melalui
Kristus, segala ajaran-Nya dan undangan-Nya untuk bersatu dengan-Nya dan
dengan sesama umat manusia, di dalam Kristus dan melalui Gereja yang
didirikan-Nya, yaitu Gereja Katolik.
Tuhan, bantulah aku untuk setia pada imanku ini, sampai akhir hayatku.
[1]Lih. Konsili Vatikan II, Konstitusi tentang Wahyu Ilahi, Dei Verbum
5: “Kepada Allah yang menyampaikan wahyu manusia wajib menyatakan
“ketaatan iman” (Rm 16:26; lih. Rm 1:5 ; 2Kor10:5-6). Demikianlah
manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan
mempersembahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya
kepada Allah yang mewahyukan”, dan dengan secara sukarela menerima
sebagai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh-Nya. Supaya orang dapat
beriman seperti itu, diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta
menolong, pun juga bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan
membalikkannya kepada Allah, membuka mata budi, dan menimbulkan “pada
semua orang rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran”.
Supaya semakin mendalamlah pengertian akan wahyu, Roh Kudus itu juga
senantiasa menyempurnakan iman melalui kurnia-kurnia-Nya.
[2]Lih.
KGK 143: “Melalui iman, manusia menaklukkan seluruh pikiran dan
kehendaknya kepada Allah. Dengan segenap pribadinya manusia menyetujui
Allah yang mewahyakan Diri (Bdk. DV 5). Kitab Suci menamakan
jawaban manusia atas undangan Tuhan yang mewahyukan Diri itu “ketaatan
iman” (Bdk. Rm 1:5; 16:26). Dan KGK 144: “Taat [ob-audire]
dalam iman berarti menaklukkan diri dengan sukarela kepada Sabda yang
didengar, karena kebenarannya sudah dijamin oleh Allah, yang adalah
kebenaran itu sendiri. Sebagai contoh ketaatan ini Kitab Suci
menempatkan Abraham di depan kita. Perawan Maria melaksanakannya atas
cara yang paling sempurna.
[3]Lih. Paus Yohanes Paulus II, dalam Audiensi Umum,
Maret 13, 1985: “Percaya berarti menerima dan mengakui sebagai
kebenaran dan kesesuaian dengan kenyataan, isi dari apa yang dikatakan,
yaitu, isi dari yang dikatakan oleh seseorang yang lain (atau beberapa
orang yang lain) karena kredibilitas orang itu. Maka, dengan mengatakan
“Aku percaya”, kita menyatakan dua buah acuan pada saat yang sama:
kepada orangnya, dan kepada kebenaran [yang dikatakan]-nya; kepada
kebenarannya dengan memperhatikan pribadi orang yang mempunyai
kredibilitas yang istimewa tersebu.”
[4]Lih.
KGK 1118: Sakramen-sakramen adalah Sakramen “Gereja” dalam arti ganda,
karena mereka ada “melalui dia” dan “untuk dia”. Mereka ada “melalui
Gereja” karena Gereja adalah Sakramen karya Kristus, yang bekerja di
dalamnya berkat perutusan Roh Kudus. Dan mereka itu “untuk Gereja”;
mereka adalah “Sakramen-sakramen, yang olehnya Gereja didirikan”
(Agustinus, De civ. Dei 22,17, Bdk. Thomas Aquinas, Summa Theologica III,64,
2 ad 3), karena mereka memberikan dan membagi-bagikan kepada manusia,
terutama dalam Ekaristi, misteri persekutuan dengan Allah, Dia yang
adalah cinta kasih, Dia yang esa dalam tiga Pribadi.
[5]St. Augustine, Confessions (Lib 1,1-2,2.5,5: CSEL 33, 1-5): “You have made us for yourself, O Lord, and our heart is restless until it rests in you.”
[6]St. John Chrysostom, A Homily for Holy Friday, The Blood and Water from His side, (+ AD 407).
[7]St. Irenaeus, Adversus Haereses,
III, 24, 1: PG 7, 966 mengajarkan: “Mereka yang tidak mengambil bagian
dalam Roh Kudus, tidak dapat memperoleh dari pangkuan ibu mereka
[Gereja] santapan kehidupan; mereka tak menerima apapun dari mata air
yang murni yang mengalir dari tubuh Kristus.”
[8]Konsili Vatikan II, Lumen Gentium 3.
[9]Sacrosanctum Concilium 5.
[10]Bdk. Santo Ambrosius, Luc. II, 85-89, PL 15, 1666-1668.
[11]Hermas, Vision. 2,4, 1; Bdk. Aristides, Apol. 16,6; Yustinus, Apol. 2,7.
[12]Bdk. Epifanius, Haer. 1,1,5.
[13]St, Klemens dari Aleksandria, Paed. 1,6,27:PG 8, 281.
[14]Lih.
KGK 767: “Sesuai tugas, yang diberikan Bapa kepada Putera untuk
ditunaikan di dunia, diutuslah Roh Kudus pada hari Pentakosta, agar ia
senantiasa menyucikan Gereja” (Lumen Gentium 4). Ketika itu
“Gereja ditampilkan secara terbuka di depan khalayak ramai dan
dimulailah penyebaran Injil di antara bangsa-bangsa melalui pewartaan” (Ad Gentes
4). Sebagai “perhimpunan” semua manusia menuju keselamatan, Gereja itu
misioner menurut kodratnya, diutus oleh Kristus kepada segala bangsa,
untuk menjadikan semua orang murid-murid-Nya (Bdk. Mat 28:19-20; Ad Gentes 2;5-6)
Ingrid Listiati
Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.
Senin, 05 Agustus 2019
Apakah Sola Scriptura/ “Kitab Suci saja” cukup?
Pendahuluan
Dalam diskusi antara umat Katolik dan non- Katolik perihal Kitab
Suci, sering timbul perkataan demikian, “Mari setuju dulu bahwa Kitab
Suci adalah pegangan satu-satunya dalam iman kita”. Seharusnya,
jika kita mendengar pernyataan sedemikian, kita harus menjawab,
“Tidak”. Sebab Kitab Suci sendiri tidak mengajarkan demikian. Pandangan
yang mengutamakan “hanya Kitab Suci saja” (Sola Scriptura) atau Kitab Suci sebagai satu-satunya
pedoman iman, adalah pandangan yang menolak Tradisi Suci dan otoritas
Gereja, dan hal ini tidak sesuai dengan pengajaran Kristus dan para
rasul.
Apa itu Sola Scriptura?
Sola Scriptura adalah doktrin Protestan yang mengatakan bahwa Kitab Suci adalah “sumber otoritas yang terutama dan absolut, keputusan akhir dalam menentukan, untuk semua doktrin dan praktek (iman dan moral)” dan bahwa “Kitab suci, tidak lebih dan tidak kurang, dan tidak ada lagi yang lain- yang diperlukan untuk iman dan moral.” ((diterjemahkan dari Geisler, Norman L. dan MacKenzie, Ralph E., Roman Catholics and Evangelicals: Agreements and Differences (Grand Rapids: Baker, 1995) ))
Apakah yang ajaran Gereja Katolik dalam hal ini?
Gereja Katolik mengajarkan bahwa Wahyu Ilahi tidak saja disampaikan kepada kita dengan cara tertulis sebagai pembicaraan Allah (speech of God)
dalam Kitab Suci, tetapi juga dalam bentuk Sabda Allah yang disampaikan
secara lisan dari Kristus dan Roh Kudus kepada para rasul. ((lih.
Katekismus Gereja Katolik no. 81, Dei Verbum 9))Pengajaran yang
bersumber dari ajaran lisan ini disebut sebagai Tradisi Suci, kemudian
juga dituliskan dan diturunkan kepada para penerus Rasul. Maka karena
sumbernya sama, maka keduanya berhubungan erat sekali, terpadu, tidak
mungkin bertentangan, karena mengalir dari sumber yang sama dan mengarah
ke tujuan yang sama yaitu Tuhan sendiri. ((lih. Katekismus Gereja
Katolik no. 80, 81, Dei Verbum 9)).
Selanjutnya dikatakan dalam Katekismus Gereja Katolik demikian:
KGK 82 Dengan demikian maka Gereja yang dipercayakan untuk
meneruskan dan menjelaskan wahyu, “menimba kepastiannya tentang segala
sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui Kitab Suci. Maka dari itu keduanya [baik Tradisi maupun Kitab Suci] harus diterima dan dihormati dengan cita rasa kesalehan dan hormat yang sama.” (Konsili Vatikan II, Dei Verbum 9).
Dengan demikian, kita ketahui Gereja Katolik tidak mengatakan bahwa
Kitab Suci “lebih tinggi/ lebih penting” dari Tradisi Suci, melainkan
menekankan kesatuan antara keduanya, yaitu Kitab Suci dan Tradisi Suci
pada tingkat yang sama, karena keduanya berasal dari Tuhan dan
mengarahkan umat beriman kembali kepada Tuhan. Gereja Katolik tidak
“merendahkan” Kitab Suci dalam hal ini, melainkan hanya menyampaikan
bahwa Kitab Suci bukan satu-satunya pedoman iman karena memang Tuhan
menyampaikan Sabda-Nya tidak hanya melalui Kitab Suci.
Sola Scriptura tidak sesuai dengan ajaran Kitab Suci
Jika “Sola Scriptura” adalah doktrin yang benar, tentunya Kitab Suci
harus secara eksplisit mengatakannya, namun tidak demikian yang kita
baca dari Kitab Suci:
1. Kitab Suci memberitahukan kepada kita pentingnya pengajaran lisan para rasul.
Jemaat mula-mula “bertekun dalam pengajaran rasul-rasul… ” (Kis 2:42, lih. 2 Tim 1:14), dan ini sudah terjadi sebelum kitab Perjanjian Baru ditulis, dan berabad- abad sebelum kanon Perjanjian Baru ditetapkan.
Kitab Suci juga mengatakan bahwa pengajaran para rasul disampaikan secara lisan, “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.” (2 Tim 2:2); dan bahwa pengajaran para rasul tersebut disampaikan “baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2 Tes 2:15; lihat juga 1 Kor 11:2)
Jemaat mula-mula “bertekun dalam pengajaran rasul-rasul… ” (Kis 2:42, lih. 2 Tim 1:14), dan ini sudah terjadi sebelum kitab Perjanjian Baru ditulis, dan berabad- abad sebelum kanon Perjanjian Baru ditetapkan.
Kitab Suci juga mengatakan bahwa pengajaran para rasul disampaikan secara lisan, “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.” (2 Tim 2:2); dan bahwa pengajaran para rasul tersebut disampaikan “baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2 Tes 2:15; lihat juga 1 Kor 11:2)
2. Kitab Suci mengatakan bahwa tidak semua ajaran Kristus terekam dalam Kitab Suci.
“Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.” (Yoh 21:25)
Kitab Perjanjian Baru sendiri mengacu kepada Tradisi suci, yaitu pada saat mengutip perkataan Yesus yang tidak terekam pada Injil, yaitu pada Kis 20:35.
“Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.” (Yoh 21:25)
Kitab Perjanjian Baru sendiri mengacu kepada Tradisi suci, yaitu pada saat mengutip perkataan Yesus yang tidak terekam pada Injil, yaitu pada Kis 20:35.
3. Kitab Suci sendiri mengatakan bahwa Kitab Suci memerlukan pihak yang mempunyai otoritas untuk menginterpretasikannya
(lih. Kis 8:30-31; 2 Pet 1:20-21; 2 Pet 3:15-16). Rasul Petrus
mengatakan bahwa ada hal-hal di dalam Alkitab yang memang sulit untuk
dicerna, dan ketidakhati-hatian dalam penafsiran akan mendatangkan
kesalahan yang fatal. Berapa banyak kita mendengar dari agama lain, yang
menggunakan Alkitab untuk menyanggah kebenaran iman Kristen, seperti
tentang ajaran Tritunggal Maha Kudus, ataupun bahwa Yesus adalah
sungguh- sungguh Tuhan.
4. Kristus memberikan otoritas kepada Gereja yang
dimulai dari para rasul-Nya untuk mengajar dalam nama-Nya (lih. Mat
16:13- 20; 18:18; Luk 10:16). Gereja akan bertahan sampai pada akhir
jaman, dan Kristus oleh kuasa Roh Kudus akan menjaganya dari kesesatan
(lih. Mat 16:18; 28:19-20; Yoh 14:16). Karena itu, Kristus memberikan
kuasa wewenang mengajar kepada Magisterium Gereja yang terdiri dari para
rasul dan para penerusnya. Magisterium/ wewenangan mengajar ini hanya
ada untuk melayani Sabda Allah, sehingga ia tidak berada di atas Kitab
Suci maupun Tradisi Suci, namun melayani keduanya.
5. Kitab Suci mengacu kepada Tradisi Suci untuk menyelesaikan masalah di dalam jemaat,
contohnya dalam hal sunat. Pada saat terjadinya krisis itu sekitar
tahun 40-an, kitab PB belum terbentuk, dan Kristus sendiri tidak pernah
mengajarkan secara eksplisit tentang sunat ini. Namun atas inspirasi Roh
Kudus, atas kesaksian Rasul Petrus, maka Konsili Yerusalem menetapkan
bahwa sunat tidak lagi diperlukan bagi para pengikut Kristus (Kis 15).
Konsili inilah yang menginterpretasikan kembali Kitab Suci PL yang
mengharuskan sunat (lih. Kej 17, Kel12:48) dengan terang Roh Kudus dan
penggenapannya oleh Kristus dalam PB, sehingga ketentuan sunat tidak
lagi diberlakukan. Di dalam Konsili itu, Magisterium Gereja: para rasul
dan penerusnya, dan pemimpin Gereja lainnya berkumpul untuk memeriksa
Sabda Tuhan, yang tertulis atau yang tidak, dan membuat suatu pengajaran
apostolik sesuai dengan ajaran Kristus.
6. Maka di sini terlihat bahwa Gereja/ jemaat (bukan Kitab Suci saja) adalah “tiang penopang dan dasar kebenaran.”
(1 Tim 3:15) Kristus mendirikan Gereja, dan bukannya menulis Kitab
Suci, tentu juga ada maksudnya, bahwa Gereja-lah yang dipercaya oleh
Kristus untuk mengajar dan menafsirkan semua firman-Nya.
7. Kitab Suci tidak mengatakan bahwa Kitab Suci adalah satu-satunya sumber Sabda/ Firman Tuhan.
Kristus itu sendiri adalah Firman Allah (lih. Yoh 1:1, 14) dan dalam 1
Tes 2:13 Rasul Paulus mengatakan bahwa ia telah menyampaikan pemberitaan
Firman Allah (“when you received the Word of God which you heard from us“- RSV) dan ini adalah Tradisi Suci.
Sola Scriptura tidak sesuai dengan sejarah Gereja
Selanjutnya, jangan lupa bahwa Tradisi Suci sudah ada lebih dahulu dari Kitab Suci, dan yang melahirkan Kitab Suci adalah Tradisi Suci melalui Magisterium Gereja Katolik.
Jika kita mempelajari sejarah Gereja, kita akan mengetahui bahwa
Tradisi Suci, yaitu pengajaran iman Kristiani yang berasal dari
pengajaran lisan Kristus dan para rasul itu sudah ada terlebih dahulu
daripada pengajaran yang tertulis. Silakan anda membaca bagaimana
terbentuknya Kitab Suci yang terbentuk pertama kali menurut kanon yang
ditetapkan oleh Paus Damasus I pada tahun 382, Konsili Hippo (393),
Carthage (397) dan Chalcedon (451) seperti yang pernah ditulis di
artikel ini, silakan klik.
Ini adalah bukti penerapan ayat 1 Tim 3:15. Jadi mengatakan bahwa Kitab
Suci saja “cukup” atau “hanya satu-satunya” sebagai pedoman iman, itu
tidaklah benar, sebab asal mula Kitab Suci itu sendiri melibatkan
Tradisi Suci dan Magisterium Gereja.
Sola Scriptura membawa perpecahan Gereja
Sering kita melihat bahwa perpecahan gereja diakibatkan karena keinginan untuk menafsirkan ayat-ayat Kitab Suci secara pribadi.
Sebagai contoh Martin Luther, John Calvin dan Ulrich Zwingli mempunyai
banyak perbedaan pandangan dalam hal Ekaristi Kudus dalam
menginterpretasikan perikop Yoh 6, hal Pengakuan Dosa, dll. Pendapat
manakah yang benar dari para pendiri ini, yang masing-masing mendasarkan
ajarannya hanya berdasarkan Alkitab? Belum lagi dalam hal- hal lain
seperti apakah Pembaptisan itu perlu atau hanya simbol saja, hal
Pembaptisan bayi, Pembaptisan dalam nama Allah Trinitas atau dalam nama
Yesus saja, dan seterusnya. Tiap-tiap kelompok yang bertentangan
mengklaim bahwa Alkitab saja cukup jelas untuk menentukannya, namun
terjadi bermacam- macam interpretasi. Maka secara fakta harus diakui
bahwa Alkitab saja tidak cukup jelas mengajarkannya, dan diperlukan
peran otoritas Magisterium untuk menginterpretasikannya.
Hal ini mirip dengan yang terjadi di setiap negara, yang mempunyai
konstitusi, namun juga mempunyai kekuasaan yudikatif untuk
menginterpretasikannya dengan benar. Jika setiap warga dapat mengartikan
sendiri konstitusi ini, tanpa adanya kuasa otoritas yang menjaga dan
melestarikannya, maka dapat terjadi kekacauan. Tuhan pastilah lebih
bijaksana daripada para bapa pendiri negara dalam hal ini. Ia tidak
mungkin hanya meninggalkan dokumen tertulis sebagai pedoman tanpa
otoritas untuk menjaga dan menginterpretasikannya dengan benar.
Kalau memang “hanya Alkitab” saja cukup, dan dapat membawa persatuan
Gereja, bersama-sama kita perlu merenungkan, kenapa setelah revolusi
Gereja oleh Martin Luther di abad pertengahan, gereja menjadi terpecah
belah sehingga sampai saat ini ada sekitar 28,000 denominasi? Seharusnya
kalau memang kembali kepada kemurnian jemaat awal, katanya hanya
berdasarkan Alkitab, maka Gereja seharusnya bersatu dan bukannya
tercerai berai. Hal ini sungguh bertentangan dengan pesan Yesus
terakhir yang menginginkan seluruh dunia melihat ada kesatuan di dalam
tubuh Kristus, sehingga dunia dapat tahu bahwa kita semua adalah
pengikut Kristus (lih Yoh 17). Dan inilah yang menjadi kerinduan Gereja
Katolik untuk menyatukan seluruh umat Allah, sebagaimana tertuang dalam
salah satu dokumen Konsili Vatikan II, yaitu Dekrit tentang Ekumenisme (Unitatis Redintegratio).
Tiga pilar kebenaran: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja
Jika kita telah mengetahui bahwa Sola Scriptura tidak sesuai
dengan ajaran Alkitab itu sendiri, maka kita dapat melihat pula bahwa
sebenarnya Kristus telah menentukan tiga pilar kebenaran yang tidak
terpisahkan yaitu: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium. Silakan
membaca lebih lanjut di artikel ini, Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda
Kasih Tuhan, bagian 3, silakan klik.
Ayat yang umumnya digunakan untuk menyatakan pandangan Sola Scriptura
Sekarang mari kita melihat kepada ayat-ayat yang sering digunakan sebagai dasar Sola Scriptura ((disarikan dari Fr. Frank Chacon dan Jim Burnham, Beginning Apologetics 7, (Farmington: San Juan Catholic Seminars, 2003), hl. 17-19)):
1. 2 Tim 3:16-17 “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat
untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan
dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap
manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”
Ada banyak orang menginterpretasikan bahwa karena ayat ini, maka
mereka hanya membutuhkan Kitab suci untuk menjadi umat Kristen yang
baik. Padahal pada saat surat kepada Timotius ini ditulis, kanon Kitab
Suci belum ada. Jadi di kalangan jemaat masih beredar berbagai tulisan,
dan jemaat tidak dapat tahu dengan pasti, mana tulisan yang “diilhami
oleh Allah”, dan mana yang tidak.
Lihatlah juga bahwa “sesuatu yang bermanfaat” itu bukan berarti hanya
satu-satunya yang kita perlukan, atau segalanya yang kita butuhkan.
Sesuatu dapat bermanfaat, tetapi tidak menjadi satu-satunya yang kita
butuhkan. Misalnya, cahaya matahari diperlukan untuk tanaman agar
tumbuh, tetapi tanaman juga memerlukan air dan tanah agar dapat
bertumbuh dengan baik.
Juga perkataan “diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” juga tidak
dapat dijadikan dasar bahwa Kitab Suci secara total mencukupi semuanya.
Rasul Paulus pada 2 Tim 2:19-21 juga menggunakan frasa yang sama, pada
waktu mengatakan, “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang
jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia
dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.” (pan ergon agathon- dalam
bahasa Yunani). Jika logika yang sama dipakai untuk mengartikan ayat
ini, maka pandangan tersebut mengatakan bahwa perbuatan menyucikan diri
adalah “cukup”, tanpa kasih karunia, iman dan pertobatan, dan ini adalah
kesimpulan yang keliru.
2. Ul 4:2 “Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya….”
Ada orang yang berpendapat, dengan adanya ayat ini maka Kitab Suci
sudah cukup, dan segala “tambahan” di luar Kitab Suci berarti tidak
diilhami Tuhan. Namun jika logika ini yang dipakai, maka semua kitab
dalam Kitab Suci selain kitab Ulangan dianggap sebagai “tambahan” Wahyu
Allah yang hanya sampai pada kitab Ulangan. Dan tentu ini tidak benar,
karena Inkarnasi Kristus, yaitu panggenapan Wahyu Allah tersebut, malah
ada berabad- abad setelah kitab Ulangan ditulis.
3. Mat 4:1-11 Tiga kali Yesus menanggapi pencobaan Iblis dengan Kitab Suci, “Ada tertulis….”
Ada yang berpendapat, bahwa dari ayat ini Kristus mengacu hanya
kepada Kitab Suci, dan tidak kepada Tradisi Suci atau Gereja. Namun
sebenarnya Yesus mengatakan, “Ada tertulis: Manusia hidup
bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut
Allah.” (ay.4) Namun Kitab Suci juga mengatakan bahwa tidak semua
perkataan Tuhan tercantum dalam Kitab Suci, sebab banyak di antaranya
juga sampai kepada kita lewat pengajaran lisan (lih. Yoh 21:25; Kis
20:27; 2 Tes 2:14-15, 3:6; 2 Tim 2:2). Dan jangan kita lupa, bahwa
Kristus sendiri adalah Sabda Allah (Yoh 1:1, 14) yang tidak dapat
dibatasi oleh tulisan dan lembaran-lembaran Kitab Suci.
Maka di sini Yesus tidak sedang mengajarkan Sola Scriptura, tetapi
sedang mengajarkan kita untuk berpegang pada semua pengajaran yang
dikatakan-Nya, tidak hanya yang tertulis di Kitab Suci. Lagipula jangan
lupa, Iblispun mengutip Kitab Suci untuk maksud yang tentu saja keliru
dan jahat. Jadi kita harus memahami Kitab Suci dan
menginterpretasikannya dengan benar. Ingatlah pesan Rasul Petrus pada
saat mengomentari surat Rasul Paulus, “Dalam surat-suratnya itu ada
hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya
dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan
mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan
tulisan-tulisan yang lain.” (2 Pet 3:16)
4. Mat 15:3 “Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?” (lih. Mrk 7:7-9, Kol 2:8)
Di sini kita melihat tradisi/ paradosis yang dikecam oleh
Yesus dan Rasul Paulus adalah tradisi manusia yang bertentangan dengan
hukum-hukum dan perintah-perintah Tuhan. Mereka tidak sedang mengecam
semua tradisi/ paradosis, sebab Rasul Paulus mengatakan juga demikian,
“Aku harus memuji kamu, sebab dalam segala sesuatu kamu tetap mengingat akan aku dan teguh berpegang pada ajaran [tradisi/ paradosis] yang kuteruskan kepadamu.” (1 Kor 11:2)
“Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran [tradisi/ paradosis] yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis. (2 Tes 2:15)
5. Why 22: 18-19: “Jika seorang
menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan
menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab
ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan
dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon
kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab
ini.”
Ada pula yang mengartikan ayat ini dengan mengatakan bahwa Gereja
Katolik menambahkan Tradisi Suci kepada Kitab Suci, sehingga ini tidak
benar. Namun pada ayat ini yang dimaksud dengan “kitab ini” adalah kitab
Wahyu itu sendiri, dan bukan Kitab Suci secara keseluruhan. “Kitab ini”
juga mengacu kepada “scroll“/ gulungan naskah di mana kitab
dituliskan. Maka perintah ini mengacu kepada larangan agar jangan
mengadakan perubahan pada salinan teks kitab Wahyu ini, dan ini juga
berlaku pada kitab-kitab lainnya.
Kesimpulan
“Sola Scriptura” atau Kitab Suci sebagai satu-satunya
pedoman iman, bukanlah merupakan pengajaran yang bersumber dari Kitab
Suci. Kitab Suci adalah sebagian dari Tradisi Suci Gereja, sehingga
Kitab Suci tidak dapat dipisahkan dari Tradisi Suci secara keseluruhan,
yang dijaga dan dilestarikan oleh otoritas Magisterium Gereja Katolik.
Kristus mendirikan Gereja untuk mengajar, menyucikan dan memimpin umat
manusia dalam nama-Nya, sampai kepada akhir jaman. Maka jika kita
menolak otoritas dari Tuhan ini, yang diberikan kepada para rasul dan
para penerusnya, maka sesungguhnya kita menolak Kristus (lih. Luk
10:16). Gereja Katolik menerima Kitab Suci sebagai
salah satu pedoman iman (lihatlah kepada Katekismus dan hasil- hasil
Konsili yang mengutip banyak sekali ayat Kitab Suci sebagai landasan
ajarannya), dan karenanya, menerima otoritas Kitab Suci sebab Kitab Suci merupakan Sabda Allah. Namun umat Katolik tidak dapat menerima Kitab Suci sebagai satu-satunya pedoman iman (Sola Scriptura), terutama karena Kitab Suci sendiri tidak mengajarkan demikian. Selain itu, Sola Scriptura
juga bertentangan dengan sejarah, karena pada faktanya Gereja-lah yang
menentukan kitab-kitab mana yang termasuk di dalam Kitab Suci, dan
kitab-kitab mana yang tidak. Akhirnya, Sola Scriptura juga
bertentangan dengan akal sehat dan membawa perpecahan, karena bahkan di
kehidupan sehari-haripun, kita mengetahui bahwa setiap peraturan
tertulis (contohnya konstitusi negara) memerlukan otoritas yang menjaga,
menjamin dan menginterpretasikannya dengan benar. Jika tidak, tentu
terjadi kekacauan, karena tiap pribadi dapat mempunyai pandangan yang
berbeda. Dan ini sungguh telah terbukti dengan adanya sekitar 28.000
jumlah denominasi gereja Protestan. Jika kita memakai prinsip yang
diajarkan Kristus
untuk menilai apakah pohon itu baik atau tidak dari buahnya (Mat 12:33,
Luk 6:44), maka kita akan mengetahui apakah ajaran Sola Scriptura itu
baik atau tidak.
Semoga
Roh Kudus sendiri menerangi kita untuk mengetahui kebenaran ini, bahwa
memang Kitab Suci adalah sangat perlu dan sangat penting untuk menuntun
dan menumbuhkan iman kita, namun Kitab Suci bukan satu-satunya pedoman
iman kita. Sebab Tuhan Yesus telah memberikan kepada kita Magisterium
Gereja yang menyampaikan juga ajaran lisan dari-Nya dan para rasul
-yaitu Tradisi Suci, dan Magisterium ini dengan setia
menginterpretasikan semua ajaran itu dalam terang Roh Kudus sesuai
dengan ajaran Kristus dan para rasul.
Ingrid Listiati
Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.Jumat, 02 Agustus 2019
PERCIK KATEKESE : "MADONNA LACTANS" YANG MENYUSUI BAYI YESUS
APAKAH Anda pernah melihat patung atau lukisan Bunda Maria menyusui?
Saat ziarah ke Chiesa Rupestri Santa Lucia Alle Malve di Matera, Italia Selatan, saya melihat ada ikon atau lukisan Bunda Maria sedang menyusui. Lukisan itu langsung digambar di dinding gereja.
Demikian pula saat jalan-jalan 'sore di Massafra, saya melihat ada galeri lukisan yang memajang lukisan tersebut. Lukisan yang sama juga pernah saya lihat di museum Gereja Katedral di Kota Siena, Toscana, Italia.
Di dalam Gereja Katolik ada istilah “Virgo Lactans” atau “Madonna Lactans”, yaitu sebuah ikonografi Bunda Maria dan sang Bayi, di mana Bunda Maria ditampilkan sedang menyusui bayi Yesus.
Penggambaran tersebut pernah disebutkan oleh Paus Gregorius Agung (540-604). Dia adalah santo pelindung para musisi, penyanyi, pelajar, dan guru.
Menurut para ahli, ada sebuah gambar mosaik yang diyakini berasal dari abad ke-12 ditemukan di bagian depan Basilika Santa Maria Trastevere di Roma. Ikonograh seperti ini juga masih dapat ditemukan dalam ikon-ikon Ortodoks (Yunani: Galaktotrophousa).
Lucetta Scaraffia, sejarawan Gereja, mengungkapkan bahwa gambar tersebut mengungkapkan sosok Bunda Maria sebagai seorang wanita yang lembut dan seorang ibu yang penuh kasih.
Ditegaskan,“ Bayi Yesus adalah bayi seperti semua manusia lain,keilahian-Nya tidak mengecualikan kemanusian-Nya".
Bahkan dalam sejarah Gereja, patung atau lukisan “Bunda Maria menyusui Bayi Yesus" dihormati sebagai Maria Pelindung bagi Pasutri yang Mengharapkan segera memiliki keturunan,pelindung para ibu yang memilki bayi,pelindung para bayi,lambang kasih sayang keibuan Maria kepada semua anaknya dan juga sebagai teladan bagi semua ibu dalam merawat anak-anaknya.
Saat ziarah ke Chiesa Rupestri Santa Lucia Alle Malve di Matera, Italia Selatan, saya melihat ada ikon atau lukisan Bunda Maria sedang menyusui. Lukisan itu langsung digambar di dinding gereja.
Demikian pula saat jalan-jalan 'sore di Massafra, saya melihat ada galeri lukisan yang memajang lukisan tersebut. Lukisan yang sama juga pernah saya lihat di museum Gereja Katedral di Kota Siena, Toscana, Italia.
Di dalam Gereja Katolik ada istilah “Virgo Lactans” atau “Madonna Lactans”, yaitu sebuah ikonografi Bunda Maria dan sang Bayi, di mana Bunda Maria ditampilkan sedang menyusui bayi Yesus.
Penggambaran tersebut pernah disebutkan oleh Paus Gregorius Agung (540-604). Dia adalah santo pelindung para musisi, penyanyi, pelajar, dan guru.
Menurut para ahli, ada sebuah gambar mosaik yang diyakini berasal dari abad ke-12 ditemukan di bagian depan Basilika Santa Maria Trastevere di Roma. Ikonograh seperti ini juga masih dapat ditemukan dalam ikon-ikon Ortodoks (Yunani: Galaktotrophousa).
Lucetta Scaraffia, sejarawan Gereja, mengungkapkan bahwa gambar tersebut mengungkapkan sosok Bunda Maria sebagai seorang wanita yang lembut dan seorang ibu yang penuh kasih.
Ditegaskan,“ Bayi Yesus adalah bayi seperti semua manusia lain,keilahian-Nya tidak mengecualikan kemanusian-Nya".
Bahkan dalam sejarah Gereja, patung atau lukisan “Bunda Maria menyusui Bayi Yesus" dihormati sebagai Maria Pelindung bagi Pasutri yang Mengharapkan segera memiliki keturunan,pelindung para ibu yang memilki bayi,pelindung para bayi,lambang kasih sayang keibuan Maria kepada semua anaknya dan juga sebagai teladan bagi semua ibu dalam merawat anak-anaknya.
By : Romo Yohanes Gunawan,Pr
PS : Disarikandari berbagai sumber
http://www.sesawi.net
Kamis, 01 Agustus 2019
Apakah Berdoa itu Percuma (bagian 4 – Selesai)
Kesalahan persepsi doa menurut St. Thomas Aquinas
Dalam tiga tulisan sebelumnya, telah dibahas tentang tiga kesalahan persepsi tentang doa yang sering kita jumpai sehari-hari bagian 1, bagian 2, bagian 3),
baik yang kita lakukan sendiri maupun oleh teman-teman kita. Kalau kita
lihat, tiga kesalahan persepsi yang diajukan oleh St. Thomas, mungkin
telah mencakup semua kesalahan persepsi tentang doa. St. Thomas
membaginya menjadi tiga bagian, yang dapat disimpulkan sebagai berikut:
- Tuhan dianggap netral: seolah-olah Dia hanya berpangku tangan saja, baik kejadian yang menyenangkan atau yang menyedihkan. Seolah-olah Tuhan hanya sebagai penonton.
- Tuhan dianggap negatif: seolah-olah Tuhan sudah menentukan semuanya, di mana lebih kepada pengertian yang negatif, sehingga doa juga percuma, karena semuanya sudah ditakdirkan.
- Tuhan dianggap positif: seolah-olah kasih Tuhan diukur sampai seberapa jauh Tuhan memenuhi permintaan doa kita, sampai pada titik bahwa doa kita dapat mengubah keputusan Tuhan.
Untuk menghindari kesalahan-kesalahan di atas, kita harus dapat
menangkap hakekat dari doa itu sendiri. Dalam tulisan ini akan diuraikan
definisi doa menurut St. Teresia kanak-kanak Yesus.
Definisi Doa menurut St. Teresia yang dikutip oleh Katekismus Gereja Katolik.
Katekismus Gereja Katolik 2558-2559, mengutip St. Teresia kanak-kanak Yesus, mengatakan “Bagiku
doa adalah ayunan hati, satu pandangan sederhana ke surga, satu seruan
syukur dan cinta kasih di tengah percobaan dan di tengah kegembiraan“. Definisi ini terlihat sederhana, namun mencakup banyak hal. Mari kita lihat satu persatu.
Doa harus melibatkan hati
Dalam doa, akal budi (reason or intellect) dan keinginan hati (the will) harus bekerjasama untuk menerima dan mengalami kehadiran Tuhan. ((St. Thomas Aquinas, ST,
II-II, q.83, a.1.; KGK, 2559.)) Kita mencoba menggunakan akal budi kita
untuk berfikir tentang Tuhan dan dengan keinginan hati, kita mau untuk
mengalami kehadiran Tuhan. Sebagai contoh, kita harus terlebih dahulu
mengetahui tentang hukum Tuhan dan pelanggaran kita terhadap Tuhan,
sebelum kita dapat mengalami pertobatan. Tidak mungkin kita mengalami
pertobatan tanpa terlebih dahulu tahu bahwa apa yang kita lakukan adalah
salah di mata Tuhan. Namun sebaliknya, hanya berfikir tentang Tuhan tidaklah cukup, namun kita harus memberikan hati kita kepada Tuhan di dalam doa. ((KGK,
2562-2563 Di sini, KGK menekankan akan pentingnya peranan hati untuk
turut berdoa. Berfikir tentang Tuhan saja tidak cukup. Pikiran harus
membantu hati (the will) untuk berdoa dengan baik, dan demikian
juga sebaliknya.)) Kalau mau dikatakan, setanpun berfikir tentang
Tuhan. Mereka punya pengetahuan tentang Tuhan dalam derajat tertentu,
namun mereka tidak memberikan hati mereka kepada Tuhan. Katekismus
Gereja Katolik menegaskan, memang benar bahwa keseluruhan diri manusia
yang berdoa, namun terlebih lagi adalah hati yang berdoa.
(KGK, 2562) Sehingga dapat dikatakan bahwa jika hati kita jauh dari
Tuhan, maka kata-kata di dalam doa adalah percuma. Disinilah perkataan
St. Teresia menjadi begitu nyata dan benar: doa adalah ayunan hati.
Tuhan adalah penggerak utama dalam doa.
Kalau bagi St. Teresia doa adalah “ayunan hati“, maka yang mengayun hati adalah Tuhan. Karena Tuhan sendiri yang menanti kita di dalam doa. Dikatakan bahwa manusia mencari Tuhan, namun Tuhan yang memanggil manusia terlebih dahulu
(KGK, 2566-2567). Bahkan doa sebenarnya adalah suatu anugerah dari
Tuhan (KGK, 2559-2561). Drama tentang doa ditunjukkan pada waktu Yesus
menunggu di sumur dan kemudian bertemu dengan wanita Samaria (Yoh
4:1-26; KGK, 2560). Yesus yang menanti kita karena haus akan balasan kasih kita.
Jadi kalau ada yang mengatakan bahwa Tuhan tidak campur tangan dalam
kehidupan kita atau malah beranggapan bahwa Tuhan telah menakdirkan
sesuatu yang tidak baik dalam kehidupan seseorang, maka anggapan ini
adalah salah sekali. Bukan hanya dia “menjawab doa kita“, bahkan Dia yang terlebih dahulu “menggerakkan hati kita untuk berdoa“, karena Dia sudah menunggu kita di sumber air, di hati kita, di tempat di mana kita dapat bertemu dengan Tuhan (KGK, 2563).
Kita diciptakan dengan kapasitas untuk mengarahkan hidup kita pada tujuan akhir.
Bahkan sebenarnya, Tuhan menciptakan manusia sedemikian rupa,
sehingga manusia mempunyai kapasitas untuk mengarahkan hidupnya kepada
tujuan akhir. Sadar atau tidak, kita mempunyai kapasitas untuk ini.
Dengan kapasitas inilah, St. Agustinus berkata “Hatiku tidak akan tenang, sampai aku menemukan Engkau, ya Tuhan.”
Dan kapasitas ini bukan hanya milik beberapa orang saja, namun semua
orang, karena pada dasarnya manusia adalah seorang filsuf. ((John Paul
II, Encyclical Letter on the Relationship between Faith and Reason: Fides et Ratio,
3, 64. Kalau kita amati, hanya manusia saja yang dapat mempertanyakan
tujuan hidupnya.)) Pada saat kita mempertanyakan “apa itu hidup, apa
tujuan kehidupan, apakah kebahagiaan, dll”, maka kita dihadapkan kepada
suatu permenungan akan “suatu awal dan tujuan akhir“.
Pada saat pertanyaan ini didiskusikan dengan Tuhan, maka ini adalah
suatu wujud doa, karena Tuhan adalah awal dan akhir. Dialog ini akan
menjadi doa seorang Kristen kalau berdasarkan wahyu Yesus Kristus. Dan
ini akan menjadi doa seorang Katolik, kalau berdasarkan wahyu Yesus
Kristus yang diteruskan dalam Tradisi Katolik dan ajaran Katolik yang
mendasari doa tersebut, di mana doa mencapai puncaknya pada perayaan
Ekaristi Kudus ((KGK, 1324, 2624 : Ekaristi adalah suatu bentuk
doa yang paling sempurna, karena menghadirkan kembali kurban Yesus
Kristus. Ini juga merupakan tradisi apostolik, seperti yang ditunjukkan
jemaat perdana. “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan
dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan
berdoa.” (Kis 2:42)) (lihat artikel: Sudahkah kita pahami pengertian Ekaristi? ).
Doa adalah pandangan sederhana ke surga
St. Teresia lebih lanjut mengatakan bahwa doa adalah “pandangan sederhana ke surga.”
Di dalam doa, derajat kedekatan dengan Tuhan yang kita alami hanyalah
merupakan pandangan sederhana atau sekilas yang sama sekali tidak dapat
dibandingkan dengan kebahagiaan sejati pada waktu nanti kita bertemu
dengan Yesus muka dengan muka (1 Kor 2:9). Pada waktu kita berdoa, kita
juga mengarahkan hati bukan kepada hal-hal di dunia ini, namun untuk
hal-hal yang berhubungan dengan keselamatan jiwa kita, yaitu tujuan
akhir yang utama: persatuan dengan Tuhan di surga. Jadi kita perlu
mengintrospeksi, apakah isi dari doa kita?
Apakah semuanya berisi dengan kebutuhan yang bersifat jasmani semata,
ataukah dipenuhi dengan hal-hal untuk keselamatan jiwa kita? “Pandangan
sederhana ke surga” adalah suatu pandangan yang begitu dalam.
Kedalamannya terletak pada keserhanaannya. Kesederhanaan suatu konsep “Manusia akan mengarahkan segala sesuatunya kepada tujuan akhir.”
Dalam Alkitab dikatakan “di mana hartamu berada, disitu juga hatimu
berada” (Mat 6:21; Luk 12:34). Seperti seorang yang bekerja di bagian
sales atau penjualan. Tujuan akhir dari pekerjaan ini adalah memenuhi
target penjualan. Jadi semua usaha, pikiran, dan hati diarahkan
seluruhnya untuk mencapai target yang ditetapkan oleh perusahaan. Dari
contoh ini, kita melihat bahwa tujuan akhir menentukan semua sikap,
perilaku, dan juga pikiran dan hati.
Tujuan akhir dan definisi tentang kebahagiaan menentukan sikap kita dalam doa.
Nah, mari kita melihat dalam kehidupan rohani kita. Di atas telah
diulas bahwa manusia diciptakan dengan kapasitas untuk mengenal tujuan
akhir, yaitu untuk bersatu dengan Tuhan. Kalau
kita membuat hal ini benar-benar menjadi tujuan akhir hidup kita, maka
segala sesuatu yang kita lakukan adalah untuk mencapai tujuan ini. Dan
cara yang dapat kita lakukan di dunia ini untuk mencapai tujuan akhir
ini adalah melalui doa. Dengan kata lain apa yang kita doakan adalah
tergantung dari definisi kita tentang tujuan akhir hidup kita maupun
definisi kita tentang kebahagiaan.
Kalau seseorang yang definisi kebahagiaannya adalah untuk menjadi
orang kaya, maka doa-doanya akan dipenuhi dengan urusan pekerjaan,
proyek, uang, dll. Kalau seseorang yang definisi kebahagiaannya adalah
keluarga, maka doanya dipenuhi dengan doa untuk keselamatan dan
kebahagiaan anggota keluarga. Nah dalam definisi St. Teresia, definisi
kebahagiaannya adalah pandangan ke surga. Inilah yang membedakan doa
kita dengan doa para orang kudus. Bagi orang kudus, definisi kebahagiaan
dan tujuan akhir dari hidup begitu jelas – yaitu persatuan dengan Allah
– sehingga doa adalah menjadi cara (the means) untuk mencapai tujuan akhir ini (end).
Kita sering membalik ini dan melihat doa sebagai akhir. Akibatnya,
kalau doa kita tidak dijawab oleh Tuhan seperti yang kita inginkan, maka
kita akan kecewa, putus asa, dan marah. Namun kalau kita melihat doa
adalah suatu cara untuk mencapai tujuan akhir, maka apapun jawaban Tuhan
terhadap doa kita akan kita terima dengan lapang hati karena pada
akhirnya semuanya akan mendatangkan kebaikan buat kita (Roma 8:28),
yaitu untuk mencapai tujuan akhir, bersatu dengan Tuhan.
St. Yohanes dari Damaskus mengatakan bahwa “doa adalah pengangkatan jiwa kepada Tuhan, atau satu permohonan kepada Tuhan demi hal-hal yang baik.” (KGK, 2559) Hal-hal yang baik disini adalah dalam relasinya dengan tujuan akhir manusia, persatuan dengan Allah di surga.
Doa didasarkan kepada iman, pengharapan dan kasih kepada Tuhan.
St. Teresia juga menekankan pentingnya “seruan syukur (dalam edisi bahasa Inggis dikatakan a cry of recognition atau seruan pengakuan) dan cinta kasih“.
Seruan syukur adalah suatu ungkapan kepada seseorang atas pertolongan
dan pemeliharaannya kepada kita. Dan kalau kita mengucap syukur kepada
Tuhan, berarti kita mengakui pertolongan-Nya dan pemiliharaan tangan-Nya
dalam kehidupan kita. Kita mengakui bahwa tanpa Tuhan, kita tidak bisa
berbuat apa-apa. Ini adalah sikap kerendahan hati yang berkenan di mata
Tuhan dan menjadi dasar utama dari doa.
Seruan syukur atau seruan pengakuan menjadi suatu ekspresi iman dan
pengharapan. Mengaku bahwa Tuhan adalah segalanya adalah suatu
pernyataan iman. Mendaraskan doa kita kepada Tuhan yang Maha Tahu dan
Maha Baik adalah suatu pernyataan pengharapan. Doa juga merupakan tempat
pertemuan antara kasih Allah yang sudah terlebih dahulu menunggu kita
dengan kasih kita kepada Allah (KGK, 2560). Bahkan dikatakan bahwa kasih adalah penyebab dari doa. ((St. Thomas Aquinas, ST,
II-II, q.83, a.13.)) Jadi kita bisa melihat bahwa doa yang benar
dilandaskan pada kebajikan ilahi “iman, pengharapan, kasih.” Tanpa
ketiga hal ini, doa menjadi sia-sia. Kalau kerendahan hati
adalah dasar dari doa, maka iman adalah suatu bentuk kerendahan hati
akal budi, dan pengharapan adalah bentuk kerendahan hati dari keinginan. ((St. Thomas Aquinas, ST,
II-II, q.161, a.5.)) Ini berarti bahwa kalau doa kita didasari oleh
iman dan pengharapan yang berlandaskan kasih yang benar, maka Tuhan akan
mengabulkan doa kita.
Mari kita melihat apa yang dikatakan Yesus “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu”
(Mat 7:7; 21:22; Mar 11:24; Luk 11:9; Yoh 14:13). Mengomentari hal ini,
St. Thomas Aquinas di dalam bukunya “Catena Aurea”, mengatakan bahwa “Kita meminta dengan iman, mencari dengan harapan, dan mengetuk dengan kasih“. Jadi dalam hal ini kebajikan Ilahi, yang terdiri dari: iman, pengharapan, dan kasih menjadi dasar doa kita ((KGK, 1812-1813 Iman, pengharapan, dan kasih atau disebut kebajikan Ilahi (theological virtues)
memungkinkan manusia berhubungan dengan Allah, dimana kita dapatkan
pada waktu kita menerima pembaptisan. Dengan ini, manusia dapat
mengambil bagian dan berpartisipasi dalam kehidupan Tritunggal Maha
Kudus. Dan kebijaksanaan Ilahi ini menjadi dasar, jiwa dan tanda
pengenal tindakan moral orang Kristen.)) Iman
memungkinkan manusia untuk menyerahkan seluruh dirinya kepada Allah,
termasuk seluruh kejadian dalam kehidupannya, baik yang menyenangkan
maupun yang tidak menyenangkan. Harapan, membuat kita merindukan kehidupan kekal bersama Allah sebagai tujuan akhir dan tujuan utama kehidupan kita (KGK, 1817) Kasih,
memungkinkan kita untuk mengasihi Allah lebih dari segala sesuatu di
dunia ini, dan mengasihi sesama demi kasih kita kepada Allah (KGK,
1822).
Kalau kita melihat definisi di atas dan jujur terhadap diri sendiri,
maka kita dapat mengatakan bahwa doa yang kita minta sering tidak
didasari oleh kebajikan ilahi. Mungkin kita berdoa dengan iman dan
pengharapan yang kelihatannya begitu besar, namun sebenarnya tanpa
didasari kasih kepada Tuhan. ((Dalam hal ini, kalau kita mendasarkan doa
kita berdasarkan iman dan pengharapan yang benar, maka kasih
senantiasa ada di dalamnya)) Berapa sering kita mendengar doa-doa yang
dipanjatkan “dalam nama Yesus, kutolak kemiskinan, sakit penyakit, dll”
Kalau doa kita didominasi oleh pekerjaan dan juga kekayaan, maka kita
dapat mempertanyakan, apakah doa ini berdasarkan kasih kepada diri
sendiri atau kasih kepada Tuhan.
Kalau kasih adalah melihat sesuatu yang baik dari seseorang atau
menginginkan sesuatu yang baik terjadi bagi orang tersebut, maka
pertanyaannya, apakah kekayaan mendatangkan kebaikan buat Tuhan? Tidak
juga. Tuhan tidak bertambah mulia dengan kekayaan kita, walaupun kita
dapat memuliakan Tuhan dengan kekayaan yang diberikan oleh Tuhan. Namun
sering kita meminta kekayaan bukan untuk memuliakan Tuhan, namun untuk
kesenangan diri kita pribadi.
Pertobatan hati menuntun kita kepada doa yang benar.
Namun, sebelum kita dapat melandaskan doa berdasarkan kebajikan
Ilahi, maka kita terlebih dahulu akan dihadapkan pada suatu realitas
bahwa kita adalah orang berdosa (KGK, 2631). Realitas ini adalah
pengetahuan terhadap diri kita sendiri. Namun pengetahuan tentang diri
sendiri tidaklah cukup, karena hanya akan berakhir pada keputusasaan,
seperti yang dicontohkan oleh Yudas Iskariot. Pengetahuan ini perlu
digabungkan dengan pengetahuan akan Allah yang Maha Kasih dan Pengampun.
Dua pengetahuan ini akan membawa kita kepada kerendahan hati dan
pertobatan yang benar yang memungkinkan kita mempunyai hati murni, yang
akhirnya akan membukakan hati kita untuk menyelaraskan hidup kita dengan
apa yang dikehendaki oleh Tuhan (lihat artikel Kerendahan hati: dasar dan jalan menuju Kekudusan),
seperti yang telah dicontohkan oleh Santo Petrus. Yesus mengatakan
bahwa “Berbahagialah orang suci hatinya, karena mereka akan melihat
Allah” (Mat 5:8).
Kembali kita diingatkan bahwa bukan kita yang mengubah Tuhan dengan
doa kita, namun dengan kesucian hati, seseorang dapat menyesuaikan
hidupnya dengan kehendak Tuhan (KGK, 2518), yang pada akhirnya menuntun
kepada kesesuaian dengan kehendak Tuhan, seperti yang dicontohkan oleh
Yesus sendiri. Di dalam doa-Nya di taman Getsemani, Yesus berkata “Ya
Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi
bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Luk
22:42). Inilah doa dengan nafas, “Tuhan apakah yang Engkau kehendaki?”
dan “Tuhan, apa yang Engkau ingin aku lakukan untuk melaksanakan
kehendak-Mu?” (KGK, 2705-2706)
Doa yang mengutamakan kehendak Tuhan ialah doa yang lepas dari
kepentingan pribadi. Doa seperti inilah yang dilandaskan oleh kebajikan
Ilahi: iman, pengharapan, dan kasih. Inilah doa yang dicontohkan oleh
Abraham, Musa, dan para orang kudus. Inilah doa, dimana Roh Kudus
sendiri yang membantu kita untuk berdoa.
Dan doa yang mengalir dari kebajikan Ilahi tidak akan terpisah dari
kehidupan yang nyata, karena doa dan kehidupan bersumber pada kasih yang
sama. Pada saat seseorang dapat menggabungkan antara pekerjaan dan
kegiatan yang lain dengan nafas doa, maka seseorang mencapai “doa yang tiada henti atau prayer without ceasing.” Dan inilah yang diserukan oleh St. Teresia, bahwa doa harus dilakukan “di tengah percobaan dan di tengah kegembiraan.” Ini berarti doa harus dilakukan setiap saat tanpa memandang situasi yang sedang kita alami.
Doa tidaklah percuma, namun harus menjadi nafas kehidupan kita
Dengan semua argumen di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa doa
tidaklah percuma, bahkan doa harus menjadi kebutuhan utama orang
Kristen, sama seperti oksigen menjadi kebutuhan utama manusia. Semakin kita mengerti akan kesalahan persepsi doa, semakin kita tersadar akan kekuatan doa yang sesungguhnya, yaitu doa
yang dituntun oleh Roh Kudus, yang menjadikan kita untuk semakin serupa
dengan Kristus, sehingga kita dapat mengikuti kehendak Allah Bapa.
Hanya dengan doa yang tiada henti, dilakukan dengan disposisi hati yang
benar, maka kita akan melihat buah-buah doa dalam kehidupan kita. Mari
kita mengikuti teladan Yesus, yang memberikan kepada kita doa yang
paling sempurna, doa Bapa Kami. Kita juga mengikuti teladan Maria, dan
para kudus, dimana setiap tarikan nafas dari mereka merupakan doa yang
tak putus-putusnya, yang rindu untuk melaksanakan kehendak Bapa.
Mari kita mengingat sekali lagi apa yang dikatakan oleh St. Teresia kanak-kanak Yesus. “Bagiku
doa adalah ayunan hati, satu pandangan sederhana ke surga, satu seruan
syukur dan cinta kasih di tengah percobaan dan di tengah kegembiraan”.
Marilah kita berdoa.
Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin. Ya, Tuhan, pada saat ini aku datang kepada-Mu, mengakui bahwa aku adalah orang yang berdosa. Dalam segala kelemahanku, bantulah aku ya Tuhan agar aku dapat mempunyai hati yang kudus, sehingga Engkau dapat meraja dalam hatiku. Tuhan, ubahlah hatiku walaupun aku belum siap. Bantulah agar aku dapat menyesuaikan segala pikiran, keinginan, dan perbuatanku sesuai dengan kehendak-Mu. Berikan aku kekuatan agar aku dapat menjadi seorang pendoa yang benar, karena aku tahu hanya melalui doa saja, iman, pengharapan, dan kasihku kepada-Mu dapat bertumbuh. Bantu aku ya Tuhan, agar doa juga dapat menjadi nafas perbuatanku setiap hari. Aku mengundang Engkau ya Tuhan, untuk terus membentuk aku sesuai dengan kehendak-Mu. Dengan perantaraan Yesus Kristus, Putera-Mu, aku naikkan doa ini. Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.
Stefanus Tay
Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.Rabu, 31 Juli 2019
Apakah Berdoa itu Percuma (bagian 3)
Pendahuluan:
Tulisan ini adalah bagian ke 3 dari topik “Apakah berdoa itu percuma?” (Silakan melihat juga bagian 1, bagian 2, bagian 3, bagian 4)
Kesalahan doa yang ketiga adalah memaksakan kehendak kita kepada Tuhan
sampai ingin mengubah Tuhan untuk mengikuti keinginan kita. Pendapat ini
keliru, karena Tuhan adalah Maha tahu dan Maha sempurna, sehingga Tuhan
tidak dapat berubah.
Mengapa kita berdoa?
Doa sudah menjadi bagian hakiki dari kehidupan semua orang dari semua
agama, karena manusia diciptakan dengan kapasitas untuk mengetahui dan
mengasihi Penciptanya. ((31, 356, 1721, 2002.)) Dalam tulisan pertama
telah dibahas kesalahan persepsi doa, yaitu: Tuhan tidak campur tangan
dalam kejadiaan di dunia ini. Dalam tulisan ke-2, kita telah melihat
kesalahan pendapat yang mengatakan semuanya sudah diatur dan ditakdirkan
oleh Tuhan, sehingga tidak perlu lagi berdoa. Dengan pembuktian yang
sama dari St. Thomas Aquinas, kita akan menelusuri kesalahan persepsi
kita tentang doa yang ke-3. ((St. Thomas Aquinas, ST, II-II, q.83, a.2.))
Kesalahan 3: Berdoa dapat mengubah keputusan Tuhan dan Alkitab sendiri mengajarkan bahwa doa manusia dapat merubah keputusan Tuhan.
Dalam hidup sehari-hari, kita sering mendengar pendapat bahwa berdoa
sangatlah penting, karena kita dapat memenangkan hati Tuhan dan mengubah keputusan-Nya.
Kita harus berdoa dengan sungguh-sungguh, sehingga Tuhan berbelas kasih
kepada kita dan kemudian mengubah keputusan-Nya sesuai dengan kemauan
kita. Bahkan jika kita berdoa dalam nama Yesus, apa yang kita minta
pasti akan dikabulkan.
Perjanjian Lama mencatat cerita tentang nabi Nuh, di mana Tuhan
menyesal bahwa Dia telah menciptakan manusia (Kej 6:5-6). Lalu Abraham,
berdoa bagi orang-orang di Sodom dan Gomorah, seolah-olah bernegosiasi
dengan Tuhan (Kej 18:23-33). Musa berdoa dengan sungguh-sungguh bagi
kaum Israel, sehingga kemarahan Tuhan tidak terjadi (Kel 32:7-14).
Bukankah semua itu adalah tanda bahwa keputusan Tuhan dapat berubah?
Di Perjanjian Baru, Yesus sendiri mengatakan, “Mintalah, maka
akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah,
maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta,
menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang
mengetok, baginya pintu dibukakan” (Mat 7:7-8). Kemudian, Yesus
juga mengatakan bahwa apa saja yang kita minta dalam doa dengan penuh
kepercayaan, maka kita akan menerimanya (lih. Mat 21:22). Dan kembali
Yesus menegaskan “apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa
kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu” (Mar
11:24). Ayat- ayat ini sepertinya mengatakan bahwa Yesus akan
mengabulkan doa kita sesuai dengan permintaan kita.
Tuhan tidak berubah
Mari kita meneliti lebih jauh tentang pendapat ini. Pertama, apakah
benar bahwa kita dapat mengubah keputusan Tuhan? Kalau kita percaya
bahwa Tuhan adalah Maha Tahu, Maha Sempurna, maka konsekuensi logis dari
pernyataan ini adalah “Tuhan tidak mungkin berubah“.
Berubah adalah suatu pernyataan yamg mempunyai implikasi perubahan dari
sesuatu yang kurang baik menjadi lebih baik atau sebaliknya. Padahal di
dalam Tuhan tidak ada perubahan (lihat artikel: Bagaimana Membuktikan Bahwa Tuhan Itu Ada?).
Karena Tuhan Maha Tahu dan Maha Sempurna, maka sebelum dunia ini
diciptakan Dia telah mengetahui secara persis apa yang terjadi, juga
keinginan dan permohonan doa kita. Dan di dalam kebijaksanaan dan
kasih-Nya, Dia tahu secara persis apa yang terbaik buat kita. Jadi kalau
kita mengatakan Tuhan dapat berubah karena doa kita, maka sebetulnya
kita membuat kontradiksi tentang hakekat Tuhan yang Maha Tahu dan Maha
Sempurna, seolah-olah kita “lebih tahu” apa yang terbaik buat kita daripada Tuhan. Hal ini tentu tidak mungkin.
Pengajaran bahwa “Tuhan tidak mungkin berubah dalam hal pengabulan
doa” ini termasuk sulit diterima, karena sering tanpa sengaja kita
berpikir bahwa proses pengabulan doa oleh Tuhan itu adalah proses yang
linier. Kita memohon tentang hal A, lalu Tuhan dapat mengabulkan atau
tidak, yang baru Tuhan putuskan pada saat/ setelah kita memohon. Padahal
tidaklah demikian. Tuhan sudah terlebih dahulu mengetahui segala kemungkinan yang akan terjadi,
sebagai hasil dari pilihan kehendak bebas kita, pada saat awal mula
dunia. Pada saat kita memohon A, Dia sudah mengetahui bahwa Ia akan
menjawab dengan B, atau kalau kita memutuskan untuk tidak berdoa, dan
berbuat X, Dia sudah tahu akan memberi Y. Dalam hal ini, B selalu lebih
baik daripada A, dan Y adalah konsekuensi dari X. Nah, kalau kita
bertanya akankah B diberikan kalau kita tidak berdoa, jawabnya adalah
tidak (yang diberi adalah Y). Makanya kita perlu berdoa. Dalam hal ini
Tuhan tidak berubah, karena dengan sifatNya yang Maha Tahu, Tuhan telah
mengetahui segalanya. Nothing takes God by surprise. Tidak
ada sesuatu hal yang mengejutkan Tuhan, sehingga Ia perlu berubah. Ia
sudah mengetahui segalanya dan segala sesuatu telah direncanakan-Nya
dengan sempurna.
Sekarang kita melihat contoh kejadian di Perjanjian Lama. Perkataan “Tuhan menyesal”
dalam kisah nabi Nuh adalah suatu perkataan yang mencoba mengekpresikan
Tuhan dari sisi manusia. Tuhan tidak berubah dan menyesal, karena Dia
adalah Tuhan yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Semua keputusan-Nya
berdasarkan kebijaksanaan dan Kasih-Nya untuk keselamatan umat manusia.
Bagaimana dengan Abraham dan Musa yang seolah-olah bernegosiasi
dengan Tuhan? Dalam hal ini, kita harus memegang teguh prinsip bahwa
Tuhan tidak mungkin berubah, yang artinya tidak memungkinkan adanya
negosiasi. Abraham dan Musa adalah merupakan gambaran/prefigurement
dari diri Yesus. Kita juga melihat bagaimana Kitab Suci menggambarkan
kedekatan mereka dengan Tuhan. Mereka tidak memikirkan kepentingan
pribadi. Dalam pemikiran Abraham dan Musa, membantu manusia menuju Tanah
Terjanji dan memberikan kemuliaan kepada Tuhan adalah yang paling
penting dalam hidup mereka. Dan ini adalah sama dengan pemikiran Tuhan.
Ini hanya mungkin dicapai pada orang-orang dengan derajat kasih yang
begitu tinggi (dalam kadar “heroic love“). ((Reginald Garrigou-Lagrange, Christian Perfection and Contemplation: According to St. Thomas Aquinas and St. John of the Cross
(Tan Books & Publishers, 2004), p.147 Lagrange membagi derajat
kasih menjadi tiga, dimana terdiri dari: 1) Pemula (beginners) adalah
mereka yang usahanya berfokus pada perjuangan untuk melawan dosa, 2)
tahap pencerahan (Illuminative way), dimana mereka membuat kemajuan di
dalam kebajikan dalam terang iman dan kontemplasi. 3) Tahap sempurna
(unitive way/ heroic love), dimana mereka hidup dengan persatuan kasih
yang begitu erat dengan Tuhan.)) Jadi terkabulnya doa bukan berarti
mereka dapat mengubah keputusan Tuhan, namun karena 1) mereka diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam karya keselamatan, yang pada akhirnya dipenuhi secara sempurna dalam diri Yesus Kristus (KGK, 2574), 2) kedekatan mereka dengan Tuhan, sehingga apa yang mereka pikirkan dan doakan adalah sesuai dengan keinginan Tuhan (KGK, 2577).
Tuhan mengubah kita melalui doa.
Memang keputusan Tuhan tidak dapat berubah, karena Dia Maha Tahu dan
Maha Sempurna. Namun Tuhan menginginkan kita mengikuti jejak Abraham dan
Musa, agar kita turut berpartisipasi dalam pekerjaan Tuhan, salah satunya yaitu dengan berdoa. Jadi, kita berdoa bukan untuk mengubah keputusan Tuhan – karena itu tidak mungkin – namun mempersiapkan sikap hati kita untuk menerima apa yang kita minta dalam doa ((St. Thomas Aquinas, ST,
II-II, q.83, a.2 – St. Thomas mengutip St. Gregory “By asking, men may
deserve to receive that almighty God from all eternity is disposed to
give.”)) atau mengubah sikap hati kita jika doa kita tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.
Di dalam kebijaksanaan dan kasihNya, Tuhan telah melihat bahwa kita
akan menerima suatu jawaban doa lewat doa-doa yang kita panjatkan. Jadi
di dalam kasus Abraham dan Musa, sebelum terbentuknya dunia ini, Tuhan
sudah melihat bahwa Abraham dan Musa akan berpartisipasi dalam karya
keselamatan bangsa Israel, dan doa mereka dikabulkan oleh-Nya lewat
doa-doa mereka yang mengalir dari kasih.
Hal lain yang penting adalah, dengan bertekun dalam doa, kita tidak mengubah Tuhan, namun kita diubah oleh Tuhan. Kita melihat contoh dari Rasul Paulus, ketika dia berdoa agar Tuhan “mengambil duri di dalam dagingnya” ((Orchard, A Catholic Commentary on Holy Scripture (Thomas Nelson & Sons, 1953), p.1110. Dijelaskan bahwa duri di dalam daging
dapat berarti tubuh atau juga pikiran, yang menjadi bagian dari
manusia. Pengarang disini mencoba membuka arti yang luas dari duri di
dalam daging, baik tubuh secara jasmani, atau juga dapat berarti
keinginan untuk berbuat dosa (concupiscence).)) , namun doanya tidak
dijawab Tuhan menurut kehendak St. Paulus (2 Kor 12:7-10). Namun dengan
kejadian ini, Rasul Paulus mendapatkan sesuatu yang lebih baik, bahwa
dia menjadi rendah hati dan tidak bermegah dengan berkat-berkat yang
sudah diberikan Tuhan kepadanya. Bahkan Rasul Paulus dapat menerima
dengan senang dan rela menghadapi segala kesulitan, siksaan, tantangan
untuk kemuliaan nama Tuhan. Dari sini, kita melihat Rasul Paulus diubah
oleh Tuhan, untuk menerima kehendakNya seperti yang difirmankan-Nya,”… sebab dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Kor 12:9).
Tapi Yesus menyuruh untuk meminta, mencari, mengetok, dan apa saja yang kamu minta akan diberikan.
Mari sekarang kita menelaah perkataan Yesus dalam Mat 21:22 dan Mar
11:24. Yesus mengatakan bahwa kalau kita mendoakan dengan penuh
kepercayaan bahwa kita telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan
kepada kita. Kalau kita membaca dengan seksama, kita harus melihat bahwa
kunci dari ayat ini adalah “iman” (Mat 21:21;
Mar 11:22). Iman yang ditekankan di sini adalah iman yang hidup. Iman
yang bukan cuma slogan, hanya dimulut, namun tanpa perbuatan (Yak 2:26).
Iman seperti ini adalah iman dan percaya yang dicontohkan oleh Abraham
dan Musa. Iman yang menempatkan kebenaran Tuhan lebih tinggi daripada
kepentingan sendiri (KGK, 150). Iman seperti inilah yang membuat doa
menjadi selaras dengan apa yang dipikirkan dan diinginkan oleh Tuhan.
Dengan kata lain, karena sesuai dengan kehendak Tuhan, maka doa yang
mengalir dari iman seperti ini akan dikabulkan oleh Tuhan. Iman seperti
ini hanya meminta sesuatu yang berguna untuk keselamatan kekal,
permohonan yang baik untuk menuju ke kehidupan kekal. Ini juga bisa
berarti sesuatu yang sifatnya sementara sejauh ini mendukung kita menuju
tujuan akhir.
Namun bukankah Yesus sendiri juga mengatakan bahwa setiap orang yang
meminta, mencari, dan mengetok akan dipenuhi permintaannya? (Mat 7:7-8).
Ayat inilah yang sering dipakai untuk menekankan bahwa doa yang
sungguh-sungguh dan terus-menerus dapat mengubah keputusan Tuhan. Namun,
apakah kalau doa tidak sesuai dengan kehendak Tuhan maka akan
dikabulkan? Bagaimana kita tahu bahwa doa kita sesuai dengan kehendak
Tuhan? Kalau kita perhatikan, Yesus tidak berkata kalau kamu minta A,
maka kamu akan mendapatkan A. Berdasarkan kasih dan kebijaksanaan-Nya,
kadangkala Tuhan memberikan sesuatu yang sama sekali lain dari yang kita
minta. Dia tahu yang terbaik buat kita melebihi pengetahuan dan kasih
kita akan diri kita sendiri. Jadi, kalau dalam beberapa hal Tuhan tidak
mengabulkan doa kita, hal ini disebabkan karena Tuhan mengasihi kita.
(pembahasan lengkap tentang ayat ini dapat dilihat di: Apakah Berdoa itu
Percuma – bagian 4).
Kita sering melihat atau mendengar cerita bahwa suatu keluarga berdoa
sungguh-sungguh untuk kesembuhan anggota keluarga mereka, namun yang
terjadi adalah bertolak belakang dengan apa yang diminta dalam doa.
Masih teringat di hati umat Katolik seluruh dunia, ketika Paus Yohanes
Paulus II terbaring sakit menjelang ajalnya dan semua orang mendoakan
Paus yang kita kasihi. Namun doa seluruh umat beriman tidak mengubah
keputusan Tuhan. Mungkin ribuan atau jutaan perayaan ekaristi dirayakan
dengan intensi doa untuk kesembuhan Paus, namun tidak dapat mengubah
keputusan Tuhan. Mungkin ratusan juta umat Katolik – termasuk dari umat
Katolik yang benar-benar hidup kudus – berdoa secara pribadi untuk
kesembuhan Paus, namun Paus tetap dipanggil Tuhan.Tuhan, di dalam
kebijaksanaan-Nya tetap memanggil hamba-Nya yang setia. Bukan karena Dia
tidak mendengar doa kita, tapi karena Dia tahu yang paling baik untuk
kita dan juga untuk Gereja-Nya.
Namun melalui peristiwa tersebut, begitu banyak orang di dunia ini,
termasuk yang tidak mengenal Kristus, yang tidak percaya akan Gereja
Katolik sebagai Gereja Kristus, anak-anak muda yang tadinya suam-suam
kuku terhadap iman Katolik mereka, tergugah oleh kejadian tersebut. Dan
misa pemakamannya menjadi acara pemakaman paling besar dalam sejarah
umat manusia. Paus Yohanes Paulus II dalam kematiannya melakukan karya
pewartaan yang menjangkau banyak orang, mungkin lebih banyak daripada
semasa dia hidup. Dan nama Tuhan dipermuliakan. Dari contoh tersebut, bukan kita yang mengubah Tuhan melalui doa kita, namun kita yang diubah oleh Tuhan untuk kebaikan kita.
Kalaupun doa kita dikabulkan, bukan berarti bahwa kita berhasil untuk
mengubah Tuhan, namun sebelum terjadinya dunia ini, dalam
kebijaksanaan-Nya dan kasih-Nya, Tuhan sudah melihat adalah baik untuk
keselamatan kita dan orang-orang di sekitar kita untuk mengabulkan doa
kita. Jadi, janganlah beranggapan bahwa jika ada doa dikabulkan itu
disebabkan karena ‘melulu’ permohonan kita. Sebab sesungguhNya
pengabulan doa adalah sepenuhnya kehendak Tuhan. Dengan demikian, tidak
ada yang dapat dibanggakan dari diri kita. Kita ‘hanya’ patut bersyukur
bahwa Tuhan memberi kesempatan pada kita untuk turut mendatangkan
kebaikan kepada kita dan sesama melalui doa-doa kita. Maka sikap yang
terbaik adalah seperti Bunda Maria, “Terjadilah padaku seturut
perkataanMu, ya Tuhan” (Luk 1:38). Mari di dalam keterbatasan kita, kita
percayakan doa-doa kita kepada Tuhan dan meyakini bahwa Tuhan lebih
bijaksana untuk memutuskan apakah doa kita baik untuk keselamatan jiwa
kita. Mari kita juga berpartisipasi dalam karya keselamatan Tuhan
melalui doa dan perbuatan yang mengalir dari kasih kita kepada Tuhan,
untuk mendatangkan kebaikan buat diri kita dan semua orang.
Marilah kita berdoa.
Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.
Ya, Tuhan, kembali aku menghadap-Mu, mengakui bahwa Engkau Maha Tahu dan Maha Sempurna. Dalam keterbatasanku, berilah aku kepercayaan kepada-Mu, bahwa segala yang Engkau putuskan adalah demi kebaikanku. Jangan biarkan aku memaksakan kehendakku, ya Bapa, melainkan biarlah kehendak-Mu saja yang terjadi dalam kehidupanku sebab aku percaya, itulah yang terbaik bagiku. Dalam nama Yesus, aku naikkan doa ini.
Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.
Stefanus Tay
Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.
Langganan:
Postingan (Atom)




